Posted by: herrybudiman | April 26, 2010

KEPEMIMPINAN KRISTEN

KEPEMIMPINAN KRISTEN

Ada 3 (tiga) hal yang akan disenarai, meliputi:

Kepemimpinan, Manajemen & Gaya Kepemimpinan.

1. Kepemimpinan.

Definisi kepemimpinan memiliki banyak versi, selama figur yang akan mendefinisikan dapat memberikan penjelasan yang memadai untuk mempengaruhi orang lain agar menerima pendapatnya.
Pada tulisan ini, penulis mencoba mengambil definisi berdasarkan pendapat dari: James AF.Stoner, menyatakan: “Kepemimpinan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dari anggota kelompok”. 1) Dari definisi tersebut dapat diurai: Pertama, bahwa Dalam Kepemimpinan harus ada figur lain yang dilibatkan (sebagai bawahan atau pengikut); Kedua, adanya pendistribusian kekuasaan yang tidak merata pada kelompok yaitu antara Pemimpin dan yang dipimpin dan Ketiga, dalam kepemimpinan harus ada yang bertindak sebagai pemimpin dan dapat mempengaruhi kelompoknya supaya melakukan tugas dengan benar dan baik.
Pada aspek yang menyangkut bagaimana ciri-ciri Pemimpin, dapat dibuat suatu asumsi bahwa pemimpin adalah memiliki tubuh yang tinggi (perawakan yang elok), otak yang cemerlang, mudah bergaul/terbuka, sangat percaya diri, memiliki suaru lantang; meskipun asumsi ini dapat saja tidak berlaku secara universal; yang berarti ada orang/figur tertentu diluar ciri-ciri itu dapat menjadi pemimpin.

2. Manajemen ;

dapat diartikan sebagai: “seni untuk melaksanakan pekerjaan melalui orang lain”.2)

Karena bersifat seni, maka dapat disebutkan sebagai suatu cara untuk mengatur, mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan sesuatu sehingga mencapai tujuan yang diinginkan. Manajemen juga mengandung pengertian sebagai proses, dimana proses ini berlangsung atau dilakukan dengan cara yang sistematis berdasarkan realita untuk melakukan sesuatu tindakan, dan proses yang dilakukan ini memiliki beberapa aspek, yang sering disebut:
(1) Perencanaan (Planning), memiliki fungsi bahwa sebelum aktivitas dilakukan secara terus-menerus, maka didahului dengan menyusun suatu rencana agar aktivitas dilakukan dengan koridor kegiatan yang jelas.

(2) Pengorganisasian (organizing), mengandung pengertian bahwa sumber daya yang dimiliki suatu institusi perlu dikoordinasikan, sehingga terarah dalam mencapai tujuan.

(3) Memimpin (leader), upaya yang dilakukan supaya sumber daya manusia dapat terarah dan terpimpin dalam melakukan aktivitasnya dengan terlebih dahulu perlu diciptakan suasana yang tepat dan terkendali.

(4) Pengendalian (controlling), suatu bentuk tindakan untuk menjaga agar arah yang akan dicapai tetap berjalan pada koridor yang disepakati dan mengendalikan adanya hal-hal yang menyimpang, yang dapat membahayakan atau menggagalkan pencapaian tujuan.

3. Gaya Kepemimpinan
Yang sering dikenal secara luas daripada gaya kepemimpinan adalah Otoriter, Demokrasi dan Laizes-faire.
- Gaya Kepemimpinan Otoriter, adalah Pemimpin sebagai pusat kekuasaan dan pengikut/bawahan adalah bagaikan sebuah mesin yang hanya dan harus menuruti perintah atasan.
- Gaya Kepemimpinan Demokrasi, meletakkan fungsi pimpinan sebagai mitra bawahan sehinga keputusan-keputusan yang diambil atasan setelah mendapatkan masukan yang memadai dari kelompok.
- Gaya kepemimpinan Laises-faire adalah model yang menempatkan pimpinan seolah-olah hanya sebagai fasilitator, sehingga keputusan yang diambil lebih banyak berdasarkan pendapat dari kelompok/bawahan.

Adapun gaya kepemimpinan akan menjadi efektif, bilamana seorang pemimpin dapat memadukan gaya tersebut diatas untuk diterapkan pada situasi dan kondisi yang sesuai, atau sering disebut sebagai model pemimpin situasional.;

model pemimpin situasional , ini dapat dikategorikan dalam:

a. Situasi Arahan; yang mengarah pada pola proses pengambilan keputusan satu arah, dilakukan oleh pemimpin, berarti pemimpin akan selalu memberikan pengarahan pada setiap pekerjaan yang akan dilakukan bawahan dan partisipasi bawahan sangat rendah dalam ikut serta menetukan keputusan.

b. Situasi Dialog; Meskipun pemimpin masih memberikan pengarahan namun ada kecenderungan memberikan kelonggaran pada bawahan/kelompok untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, sehingga partisipasi bawahan tinggi dan kontrol pengambilan keputusan tetap pada pimpinan.

c. Situasi Dukungan; Pemimpin cenderung bersikap aktif dalam memfasilitasi pengambilan keputusan, namun rendah/sedikit dalam memberikan arahan untuk penyelesaian pekerjaan dan bawahan/pengikut seolah-olah yang menentukan pengambilan keputusan.

d. Situasi Pendelegasian; Pemimpin mengajak pada bawahan untuk telibat aktif dalam pengambilan keputusan sehingga tidak nampak secara jelas adanya hubungan atasan dan bawahan, dan pengambilan keputusan-pun didelegasikan pada para pengikut untuk mencapai kata kesepakatan dalam penyelesaian pekerjaan.

Terakhir:

Tipe manakah yang saat ini sedang Anda jalankan dalam memimpin ?

————————————–

Sumber Pustaka:
1. Shaun Tyson & Tony Jackson; The Essence of Organizational behavior; Perilaku Organisasi, Andi, Yogyakarta, 2000.
2. James A.F Stoner, Manajemen, jilid 1 & 2, edisi kedua, Erlangga, Jakarta, 1986.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: