Posted by: herrybudiman | April 27, 2010

Dogma Gereja, Roh Kudus dan Akhir Zaman

Dogma Gereja, Roh Kudus dan Akhir Zaman.
————————————-

Gereja yang kelihatan dengan Gereja yang tak kelihatan

1. Pemahaman tentang Gereja yang kelihatan dengan Gereja yang tak kelihatan.

Gereja tidak secara eksplisit dijumpai dalam Alkitab (Perjanjian Lama);
istilah dalam perjanjian lama adalah “qahal” (atau kahal), dengan arti memanggil, atau kata “edhah” yang artinya, memilih atau menunjuk.
Misal ayat yang mendukung: Kel.12:6 Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.; pengertian ayat ini menekankan pada kumpulan jemaah atau adanya jemaah yang bertemu bersama-sama di satu tempat yang telah ditunjuk atau sebuah pertemuan dari umat.

Sedangkan, Dalam Perjanjian Baru, menunjuk arti “ekklesia” (menurut Septuaginta), dipahami sebagai pertemuan secara umum atau ditafsirkan sebagai: keluar dari sekumpulan orang-orang atau Gereja terdiri dari orang-orang pilihan yang dipanggil keluar dari masyarakat.
Dalam Perjanjian Baru, kata Ekklesia digunakan sebanyak 111 kali, ayat pendukung Kis. 19:39 Dan jika ada sesuatu yang lain yang kamu kehendaki, baiklah kehendakmu itu diselesaikan dalam sidang rakyat yang sah. Atau Roma 8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.;

Pengertian lain yaitu Kuriakon (yang adalah milik Tuhan); Gereja adalah terdiri dari tubuh orang-orang percaya yang telah dipanggil keluar dari dunia, dan yang berada di bawah wewenang dan kekuasaan Tuhan Yesus Kristus, menekankan pengertian adanya perjamuan Tuhan atau Hari Tuhan.
Perjamuan Tuhan seperti tertulis pada 1 Kor 11:20:
Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.; keadaan berkumpul dan berseteguh hati, tekun mempelajari pengajaran tentang Kristus ; atau
(Kis. 2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.) atau yang berarti pada waktu Yesus menunjuk murid-murid yang ada bersama dengan Dia; dan
(Mat. 16:18); Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Untuk membedakan secara tegas antara Gereja yang Kelihatan dengan Gereja yang tidak kelihatan, maka dapat di pakai dengan pembatasan sebagai berikut:

- Gereja yang kelihatan, gereja-gereja local dengan berbagai identitas, yaitu kelembagaan yang berbentuk gereja (bangunan) sehingga menandakan akan identitas, sehingga gereja tampak kecil dan kurang memberikan suatu pemahaman universalitas, cenderung adanya persaingan, dalam mencari domba, dan terkadang tidak menyadari memakai cara yang negatif dalam mencari domba. Gereja-gereja yang kelihatan ini akan menonjol dalam aspek peribadahan sehingga dapat menunjukkan suatu denominasi. dan Gereja mengambil pola menentukan sendiri tata cara ibadah (liturgi).

- Gereja yang tidak kelihatan, dapat diidentifikasikan sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, Tuhan, Penebus Dosa. Atau Gereja yang ideal dan lengkap sebagaimana nanti pada akhir jaman (Why. 7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.);
Dalam eksistensinya gereja yang tidak kelihatan akan terlihat dari orang-orang yang mengaktualisasikan kehidupannya secara prinsip kristiani; meskipun tidak memiliki suatu denominasi dalam pelayanan, namun karena sifatnya melekat pada setiap individu, maka gereja yang tidak kelihatan ini dapat diumpamakan sebagai surat-surat terbuka Kristus dan tubuh/manusia yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Juruselamat & Tuhan

Dalam pluralitas denominasi, Gereja yang tidak kelihatan memberikan pelayanan atau menghambakan diri pada Yesus Kristus, dengan satu pengertian yang utuh, bahwa masing-masing gereja menyadari sebagai bagian dari tubuh Kristus atau dipersatukan dalam pemahaman untuk memberitakan kerajaan Allah dalam pribadi Yesus Kristus; Yesus Kristus sebagai pusat pengajaran dan anugerah keselamatan bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Peran Roh Kudus dalam penciptaan dan pemeliharaan Alam semesta

2. Peran Roh Kudus dalam penciptaan dan pemeliharaan Alam semesta;

Peran Roh Kudus dalam penciptaan, adalah menggambarkan bahwa Roh Kudus turut aktif bekerja menjadikan atau menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya (Mzm.33:6 Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.);
Hal ini menunjukkan peran Roh Kudus dan penciptaan manusia dikerjakan oleh Roh (Ayb 33:4 Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.);

Selain itu dapat ditelaah dari Kitab Kejadian, adanya peran hakiki bahwa Allah adalah Roh, telah menjadikan langit dan bumi (Kej.1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.) Dan melengkapi isi bumi ini dengan menciptakan/menjadikan/membentuk manusia dari debu dan memberikan nafas kehidupan, sehingga manusia itu hidup (Kej. 2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.).

Sedangkan dalam pemeliharan alam semesta, bahwa Allah selalu memperhatikan atau memelihara bumi, supaya tetap menghasilkan dan memiliki manfaat bagi manusia dan mahluknya, (Yes. 40:70:7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.) Atau dalam (Yes. 44:3 Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.). Dari ayat Alkitab diatas, terlihat jelas bahwa Allah atau Roh Kudus, berperan aktif memelihara kehidupan yang berlangsung di muka bumi ini. Bahkan pemeliharaan ini dinyatakan bukan hanya untuk sesaat pada masa awal dunia dijadikan, tapi dipelihara atau dicurahkan terus-menerus sampai ke anak cucu, yang berarti menegaskan suatu pemeliharaan yang tidak pernah putus.

3. Apakah Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang tak beriman ?
Tidaklah bisa dipungkiri atau harus diakui bahwa Allah/Roh Allah/Roh Kudus, tetap berperan dalam kehidupan di dunia ini, melalui pemahaman anugerah umum yang diberikan Roh Kudus kepada seluruh mahluk (manusia) tanpa membedakan apakah manusia itu disebut beriman atau tidak beriman.
Roh Kudus juga memelihara mereka artinya Roh Kudus tidak langsung memberikan hukuman kepada orang yang tidak beriman, namun dengan sabar Roh Kudus menantikan setiap orang untuk bertobat sehingga diselamatkan;
Dalam diri orang percaya (orang yang dikuduskan) maka Roh Kudus akan selalu mengingatkan pada orang (dalam hatinya) untuk tidak berbuat dosa, sebaliknya bagi orang yang belum percaya (tidak beriman) Roh Kudus tidak mengingatkan orang itu untuk tidak berbuat dosa;
Karena anugerah yang diberikan Roh Kudus adalah anugerah umum untuk memelihara alam semesta; maka manusia perlu memperoleh anugerah khusus/anugerah di-kudus-kan; untuk itu manusia harus mau menundukkan diri dulu atau mengalahkan akal pikirannya supaya tunduk di dalam kuasa Yesus Kristus, dalam kata lain, hati dan akal budi manusia harus mau mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan; sehingga akhirnya manusia itu di-’kudus’-kan dan akan dibentuk oleh Roh Kudus.

4. Peran Roh Kodus dalam kehidupan orang percaya:
Roh Kudus membuat orang lahir baru; menjadikan orang mampu menjauhkan dan meninggalkan dosa, bisa berbuat kebaikan/kebenaran sesuai kehendak Allah dan menjadikan manusia sebagai Anak-anak Allah, pewaris kerajaan Allah , contoh:
(Yoh 3:3-5 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
3:5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.).
Nyata bahwa manusia harus dilahirkan kembali adalah menjadi manusia yang berfikir dan bertindak kearah melakukan perbuatan baik/benar sesuai standar/ukuran kehendak Allah

Roh Kudus, menjadikan orang menjadi saksi kebenaran dalam diri Kristus; mengembalikan kemuliaan manusia, dan manusia menjadi kembali memiliki ’rupa dan gambar Allah’ secara sempurna, dan memberi kuasa kepada setiap orang yang percaya dapat melakukan/memampukan pelayanan untuk memenangkan jiwa-jiwa yang belum percaya; dan memampukan setiap orang percaya senantiasa mau hidup dalam Roh dan menang atas dosa (tidak tahan berbuat dosa).

5. Kesaksian dan cita-cita dalam bimbingan Roh Kudus.
Roh Kudus, yang saya yakini adalah Roh Allah sendiri dalam pengertian sebagai pembimbing/pelindung, tetap melakukan pekerjaannya bagi semua orang, hanya dalam pribadi yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus secara benar dan memahami maksud kedatangan-Nya di dunia ini tentunya ada perbedaan pemahamannya.
Saya sebut sebagai suatu perjalanan dalam mengenal Tuhan Yesus Kristus secara lebih mendalam, merupakan suatu kesaksian yang dimulai semenjak masih pemuda (lajang) hingga menjadi orang tua, sewaktu masih muda saya mengganggap bahwa diri pribadi saya sebelum mengenal sungguh-sungguh akan penyataan kasih dari Tuhan Yesus Kristus kepada saya, dalam menempuh kehidupan ini sering hanya mau menuruti kata hati untuk melakukan aktivitas yang lebih cenderung ke arah hura-hura mungkin hal ini adalah sesuatu yang wajar sebagai seorang manusia yang masih berjiwa muda sehingga suatu aktivitas/perbuatan yang dilakukan tanpa menyadari bahwa aktivitas itu kemungkinan menyinggung atau menyakiti hati orang lain. Contoh (klasik) adalah senang mengikuti Dugem (Dunia gemerlap malam), karena tidak pernah melakukan introspeksi secara benar, aktivitas tersebut dianganggap sebagai suatu perbuatan yang lumrah dilakukan oleh anak muda karena yang terpikir adalah hanya rasa senang hura-hura; meskipun masih dalam taraf kewajaran tidak terpengaruh pada narkoba atau terlibat suatu paham free seks; meskipun jika mau mudah melakukannya.
Jika dalam kehidupan beribadah sebagai orang Kristen, saya senantiasa taat mengikuti kegiatan kepemudaan atau rutinitas ibadah hari minggu atau secara kontinyu mengikuti ibadah-ibadah yang bersifat kepemudaan (Bidang Pelayanan Kategorial/BPK Pemuda); namun tak berfikir dalam mengikuti kegiatan ini apakah menjadikan lebih bermakna atau hanya sebuah rutinitas belaka. Saya tidak/belum begitu tertarik dalam dunia akademis yang mempelajari bidang Agama atau Teologi.
Kehidupan ini terus berjalan dan berlanjut hingga saya bekerja, dalam meniti karir pekerjaan-pun kadang masih mengikuti kegiatan Dugem bersama rekan sekerja, namun pada akhirnya kegiatan ini saya hentikan sesudah berumah tangga, hanya saja masih enggan untuk terlibat aktif di dalam pelayanan gerejawi.
Sesudah kurun waktu tertentu, dengan melihat dan mengetahui aktivitas sehari-hari dalam dunia industri bahwa dunia pekerjaan yang saya geluti, sedikit banyak menjadikan diri saya mengerti paham dunia bisnis ternyata dalam dunia bisnis menjadi hal yang lumrah terjadinya perilaku memberikan sesuatu sebagai balas jasa atau ucapan terima kasih karena dibantu kelancaran bisnisnya; contoh kasus yakni dalam suatu keterlibatan di kepanitiaan yang membidangi konsumsi, maka dalam pengadaannya sering harus melebihan atau membengkakan jumlah (mark-up) yang harus disediakan dengan mengingat akan rasa solidaritas kepada rekan sekerja lain, yang mesipun tidak ikut terlibat langsung namun harus ikut diperhatikan; hal-hal inilah terkadang menggelitik hati/nurani sepertinya ada suara atau bisikan dalam hati untuk tidak mau ikut terlibat, namun karena lingkungan pekerjaan maka sewaktu pimpinan menunjuk untuk menangani kegiatan bidang konsumsi atau dukungan umum, maka mau tidak mau harus menuruti.
Disisi lain setelah berumah tangga ada suatu kerinduan untuk ikut aktif dalam kegiatan gerejani, dengan mengikuti rutinitas bentuk ibadah sektoral atau rumah tangga, yaitu suatu ibadah rutin pada hari tertentu yang diselenggarakan di rumah-rumah jemaat secara bergiliran;
Ada suatu kejadian yang menurut saya hingga kini saya anggap sebagai suatu berkat yang dicurahkan kepada saya pribadi, bahwa saya pernah mengalami sakit penyakit batu empedu, dan ternyata harus dioperasi, karena kantung empedu sudah rusak dan harus diambil/dipotong atau dikeluarkan dari tubuh (tahun 1988); dari sinilah saya mulai introspeksi diri secara mendalam, karena menurut informasi yang saya peroleh apabila terjadi keterlambatan dalam pengoperasian, maka tidak mustahil sudah mengantar saya ke petak 2 x 1 meter (meninggal), dengan peristiwa ini pada akhirnya menuntun saya supaya lebih berani masuk kedalam kancah pelayanan di Gereja, sesudah mengalami proses pergaulan di lingkungan jemaat secara sektoral maka terjadi pemilihan majelis dan salah satunya saya harus mau dipilih oleh jemaat (yang saya yakini ini karena Roh Kudus yang memimpin jemaat) supaya menjadi wakil jemaat dari sektor tertentu sebagai majelis/pejabat gereja (diaken/penatua).
Dalam proses perjalanan melayani Yesus Kristus ternyata dituntut untuk lebih memahami secara mendalam Alkitab sebagai Firman Tuhan; karena sebagai Majelis secara waktu tertentu mendapatkan tugas untuk berkotbah menyampaikan Firman Tuhan, secara berpindah-pindah dari sector yang satu ke sector yang lain di warga gereja oleh karena itu butuh suatu pengetahuan yang mendalam agar tidak menyampaikan firman Tuhan dengan sembarangan (sempit wawasan) tapi dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk pelayanan yang dikehendaki oleh Allah.
Yang akhirnya sesudah menjalani kegiatan gerejani menjadi Majelis +/- 7 tahun, saya menyadari masih sering membuat kesalahan dalam memaknai Firman Tuhan; meskipun jemaat juga kurang memahami, sehingga mereka mungkin karena juga tidak memahami dengan baik, maka tidak melakukan protes tapi yang protes adalah nurani saya sendiri, karena kadang-kadang merasa apakah sudah benar dalam menyampaikan makna Firman Tuhan untuk membangkitkan semangat atau motivasi jemaat dan menguatkan iman jemaat, sehingga menjadi sungguh–sungguh mengetahui dan mau menuruti Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari;
Timbulah dibenak saya bagaimana caranya untuk mendalami Firman Tuhan, maka satu-satunya cara adalah mengikuti pendidikan secara resmi di lembaga pendidikan atau Sekolah Tinggi Teologi tentunya pemikiran ini timbul karena peran Roh Kudus yang mengarahkan pikiran atau hati saya untuk berani masuk ke Sekolah seperti ini; dengan mempertimbangkan untuk kemudahan transportasi dan agar dapat menyesuaikan waktu dalam belajar karena saya masih bekerja di suatu Perusahaan Perseroan, maka saya memberanikan diri mendaftar ke Sekolah Teologia di bandung; dengan mengikuti proses pendaftaran yang dipersyaratkan oleh sekolah tinggi ini; dan setelah menjalani proses pendidikan dalam dua semester ini ada dampak yang saya rasakan, saya merasa lebih berani atau percaya diri dalam menyampaikan firman Tuhan, karena mengerti ilmu atau cara berkotbah yang baik yang umum dan khusus digunakan; dan bisa merasakan adanya penyimpangan penyampaian Firman Tuhan yang dilakukan oleh hamba Tuhan lain (hal ini saya sadari sebagai suatu peran dari Roh Kudus yang merasuki alam pikiran saya), namun hal itu saya gunakan sebagai bahan masukan secara pribadi supaya tidak mengulang kesalahan yang umum dilakukan oleh para hamba Tuhan.
Sebagaimana contoh yang sering terjadi dalam pemahanan Baptisan; dulunya saya tidak berani menyataan bahwa Baptisan harus dilihat makna Baptisannya sebagai hal yang mutlak yaitu dibaptis dalam nama Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus, sedangkan cara membaptis adalah tidak mutlak; karena ternyata di lingkungan jemaat ada yang sering bertanya, apakah betul lebih afdol atau lebih Alkitabiah jika seseorang mengikuti baptisan dengan cara baptis selam, dibandingkan dengan percikan.
Karena pemahaman ini bisa mengakibatkan seseorang menjadi ragu-ragu atau goyah sehingga ada yang mengikuti baptisan ulang secara selam (karena di lingkungan atau peraturan Gereja yang saat ini saya mejadi anggota jemaatnya adalah menganut baptis secara percik);
Atau pemahaman tentang Bahasa Roh; yang ternyata juga bukan sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh setiap jemaat atau hamba Tuhan dalam melayani jemaat dan Kristus.

Pengetahuan yang lain adalah dalam menafsirkan Ayat-ayat Firman Tuhan, dalam memberikan penafsiran atau pelayanan firman, maka harus berusaha menafsirkan dengan tidak hanya melihat pada bunyi kalimat/kata yang ada pada Alkitab dengan cara memotong ayat tapi adalah harus melihat secara menyeluruh sebagai sebuah perikop (lebih menafsirkan secara ekpositori atau terkadang topikal); tentunya dengan mempertimbangkan konkordansi.

Disamping itu masih dalam pergumulan saya sampai saat ini sebagai satu hal yang menggelitik hati dan fikiran adalah keinginan untuk menulis atau memberitakan Firman Tuhan dalam bentuk tulisan pada sebuah buku kerohanian atau teologia dan terjun langsung (menggunakan waktu penuh) dalam bentuk pelayanan yang berbentuk lembaga/yayasan sosial.

Akhir Zaman, tentang post millennium, pre millennium dan a-millenium

6. Tentang post millennium, pre millennium dan a-millenium
Ada 3 (tiga) posisi Akhir Zaman:
a. Post millenium;
b. Pre millenium;
c. A millenium.

Ketiga posisi ini memahami suatu keadaan adanya masa / zaman tertentu yang akan dikuasai (oknum) anti Kristus (tribulasi); sesudah dikuasai anti Kristus, maka masuk ke suatu/kurun masa 1000 tahun sebagai penghakiman dan berlanjut adanya masa/zaman baru; pembentukan dunia yang baru.

Post millennium, memahami adanya keadaan manusia yang penuh perdamaian/sejahtera sebelum adanya anti Kristus, manusia bisa mengusahakan damai sejahtera di bumi ini karena mendasarkan pada asumsi bahwa manusia memiliki sifat baik;

Pre millenium, usaha-usaha yang dilakukan manusia yang mengganggap bisa atau mampu menjadikan dunia ini aman, ternyata meleset dengan adanya perang; (misal. PD I atau PD II) sehingga manusia menjadi pesimis,
Paham ini dianggap tidak terbukti, karena manusia ternyata lebih mengedepankan ego atau harga diri untuk mendamaikan; mengganggap diri atau kelompoknya adalah sebagai yang terbaik, terpilih atau ditakdirkan untuk menjadi pemimpin dunia atau menjaga kedamaian di dunia.

A millennium; manusia akan menghadapi suatu persaingan yang lebih hebat namun tidak dalam bentuk peperangan fisik, meski pada akhirnya tetap membuat manusia lebih sengsara dan dalam masa tertentu sesudah kesengsaraan yang hebat ini, akan muncul suatu penghakiman Selama 1000 tahun.
Sebelum terjadi pemusnahan manusia (atau pemilihan manusia kepada siapa manusia dipilih atau dibinasakan), sehingga fenomena ini adalah menggambarkan keadaan akhir zaman.
Akhir Zaman
Dalam memahami fenomena Akhir Zaman secara Alkitabiah, atau banyak orang Kristen percaya bahwa kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus kedunia ini dengan cara yang sama seperti waktu Ia terangkat ke Surga (Kisah Para Rasul 1:11 dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”); namun kepastian tanggal, bulan atau tahun kedatangan-Nya tidak ditunjukkan, semestinya dikaitkan dengan nats Alkitab yang lain (Mat. 24: 24:36 “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” Dan 24:43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.); bisa ditafsirkan, bahwa manusia harus berjaga setiap saat atau kata lainnya: siap sedia, kapan, dimana dan dalam saat apapun untuk menghadap Tahta Kristus. Atau yang akan menjadi Hakim yang Adil, yang menghakimi manusia adalah tahta Kristus. Sebagaimana tertulis: (Yohanes 5:22 ‘Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak”).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,379 other followers

%d bloggers like this: