Posted by: herrybudiman | May 6, 2013

ANAK SECARA IMAN

ANAK SECARA IMAN

Nats ALKITAB : TITUS 1: 1-4

 

Penalahaan Alkitab,

1:1 Dari Paulus, hamba Allah dan rasul Yesus Kristus untuk memelihara iman orang-orang pilihan Allah dan pengetahuan akan kebenaran seperti yang nampak dalam ibadah kita,

1:2 dan berdasarkan pengharapan akan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan oleh Allah yang tidak berdusta,

1:3 dan yang pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.

1:4 Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.

 

 Prolog:

Surat Paulus kepada Titus merupakan salah satu dari surat-surat Paulus yang terdapat di dalam Perjanjian Baru. dan Titus (Kristen non Yahudi ) yang merupakan teman sekerja Paulus. Surat ini dikategorikan sebagai surat Pastoral, ditujukan kepada Titus (sebagai orang yang sangat setia, karena kesetiaannya, Paulus menaruh kepercayaan yang besar untuk Titus yang menjalankan tugas sebagai pelayan Firman dan secara garis besar surat ini berisi petunjuk-petunjuk untuk menjalani hidup yang baik sekaligus untuk menanggulangi ajaran sesat (anti Kristus), karena kehidupan masa itu diantaranya: hidup dalam kejahilan, tidak taat beribadah, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan (hidup dalam kejahatan dan kedengkian)

 

Ilustrasi:

  1. Perumpamaan:

Seorang anak perempuan muda yang sedang mempersiapkan  perkawinannya masuk dalam kehidupan suatu keluarga, dan ia meminta kepada keluarga itu untuk bertindak sebagai orang tuanya. Keluarga itu menerimanya dengan senng hati karena tahu orang tua dari anak perempuan itu, tinggalnya di tempat jauh. Kami ikut mempersiapkan perkawinannya dengan sebaik yang bisa kami lakukan. Kami memperlakukannya seolah ia anak kami sendiri. Setelah selesai, anak perempuan itu harus pergi bersama suaminya. Beberapa waktu lamanya hidup bersama, dan kami   turut bertanggung jawab atas perkawinannya dengan segala kesibukannya, dengan kepergiannya itu membuat rasa kehilangan yang besar, karena sebentar saja terjalinnya kekeluargaan itu terjadi.

2.    Pesan Alkitab:

a.   Paulus memperlakukan Titus sebagai anak sah menurut iman di dalam Yesus Kristus. Paulus tentulah tahu dengan baik bagaimana hubungannya dengan Titus sehingga ia dapat menyebutnya seperti itu.

b.   Hubungan Paulus dengan Titus adalah hubungan berdasarkan iman, dengan demikian hubungan Paulus dengan Titus sudah tentu tidaklah sama dengan hubungan antara orang tua yang dimintai tolong oleh anak perempuan itu. (seperti pada perumpamaan diatas).

c.   Suatu kenyataan kehidupan yang jauh melebihi kebutuhan seorang tua untuk mendampingi anak dalam perkawinannya dan hubungan Paulus dengan Titus adalah menyangkut iman, dan iman terkait dengan keselamatan seseorang.

d.   Tuhan selalu bersedia menerima manusia dengan segala keadaanya. Yang Tuhan butuhkan hanyalah kesediaan manusia untuk datang kepada–Nya dan menyapa Tuhan sebagai Bapa dan manusia memahami bahwa ia adalah anak-Nya.

e.   Keberanian kitalah yang sering menjadi penghambat bagi hubungan itu. Kita sering merasa tidak layak dihadapan Tuhan karena merasa sangat berdosa sekali. Padahal Tuhan tidak melihat kita seperti itu, dan Tuhan tidak balas dendam. (Maz 103 :10).

3.   Implikasi dari : Iman, Kebenaran dan  Pengharapan akan keselamatan.

a.   Iman (lih: Ibr. 11:1), dapat diberi pengertian sebagai “Tidak kuatir akan penderitaan dan tantangan hidup”.  Paulus menyadari bahwa tugas pelayanan yang diemban Titus bukanlah perkara yang mudah, mengingat sebagai pemimpin jemaat ia harus menghadapi berbagai ancaman dan menjaga kemurnian ajaran dan iman jemaat, agar nama Tuhan dipermuliakan. Supaya manusia tidak terjerumus pada ajaran sesat/menyesatkan (Gnosticsm, Arianism).

b.   Kebenaran itu ada di dalam Kristus, (Yoh.14:6) maka Injil harus terus-menerus diberitakan. Apa yang membuat Paulus tidak berhenti memberitakan Injil? Karena Injil adalah berita tentang kebenaran, dan pengharapan kepastian kehidupan kekal di dalam Kristus. Paulus menjelaskan, mengapa dirinya tetap terus bersemangat dalam memberitakan Injil, yakni karena Allah menyatakan kebenaran akan kehidupan kekal tersebut di dalam Injil (ay. 3).

c.   Pengharapan akan keselamatan Titus diharapkan untuk terus melihat pengharapan iman Kristen di dalam Kristus, yaitu kepastian hidup kekal atau keselamatan; seperti yang Paulus lakukan di tengah-tengah pelayanannya. (Kis 4:12).

 

Pertanyaan Diskusi:

1.   Menurut Saudara, apa yang disebut Anak secara Iman, dapatkah menjadi kenyataan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat, serta bagaimana mewujudkannya ?

2.   Kenapa Orang Kristen harus memberitakan Firman Tuhan sebagai kesaksian hidupnya ? (sebutkan alasannya dan berikan contohnya bersaksi, serta kutipkan ayat alkitabnya).

3.   Bagaimana seharusnya perilaku orang-orang Kristen dan nasehat apa yang harus diajarkan/diberitahukan dalam berpartisipasi didalam kehidupan bermasyarakat ? (berikan contoh ayatnya)

Selamat berdiskusi,

TUHAN YESUS KRISTUS memberkati

Amin.

Posted by: herrybudiman | May 12, 2010

Pengajar sesat

Pengajar  sesat

Nats/Firman : II Tim 2: 14 – 26

2:14 Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya.

2:15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.

2:16 Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan.

2:17 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus,

2:18 yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.

2:19 Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.”

2:20 Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.

2:21 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.

2:22 Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.

2:23 Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran,

2:24 sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar

2:25 dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran,

2:26 dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Saudara2 yg terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

“Jika kita punya hobby hiking/naik gunung atau menyusuri jalan setapak di hutan; kemudian mencoba menyusuri suatu jalan untuk menuju kesuatu tempat, puncak gunung maka perjalanan yang terbaik adalah pergi berkelompok kecil terdiri dari minimal 3 (tiga) orang;

Saat menyusuri jalan setapak, setiap mengalami atau mendapati suatu jalan yang menyimpang (simpangan) maka nasehat yang harus ditaati adalah membuat tanda pada jalan itu,

Atau jika mencoba menembus belukar, kemudian membuat jalan baru, maka juga harus membuat suatu tanda pada jalan yang dilalui, pendek kata, sebaiknya seringlah membuat tanda2 khusus pada jalan-jalan yang di lalui, hal ini menjadi suatu ketentuan umum yang harus ditaati/dipatuhi supaya perjalanan pergi/naik dan kembali /turun, tidak akan tersesat.

Kerepotan muncul dikala pada saat pergi/naik gunung, kemudian turun menghadapi cuaca yang buruk; maka tanda2 itu dapat terhapus atau hilang dan kemungkinan akan membuat orang tersesat.

  1. Ayat 14-16:

Dalam firman Tuhan itu kita dapati  kata yang berbunyi: ‘bersilat kata atau omongan yang kosong’; kata ini mengandung pengertian negative atau cenderung kearah negative.

Bersilat kata , menunjuk pada suatu kondisi adanya perdebatan yang ditunjukkan oleh suatu pribadi yang senang memperdebatkan sesuatu atau mempertahankan suatu pendapat tapi ngotot cenderung kearah ‘pokoke’ atau, berbelit-belit dan berargument tapi tak beraturan, tak di dukung data/fakta yang jelas/tegas (bagaikan org yang sedang bermain silat, menggunakan gerakan-2 yang kadang sebetulnya tidak perlu, tapi dipakai untuk menarik perhatian lawan).

Omongan kosong; sebagai menyampaikan maksud dalam pembicaraan tanpa makna tapi lebih sekedar untuk memuaskan hati;

Hal ini sering terjadi dalam suatu perbincangan kelompok kecil, berbincang-bincang membicarakan sesuatu , contoh: mengkritisi kebijakan pemerintah, dinegeri tercinta ini, tapi tdk memberikan solusi jalan keluarnya atau meskipun sdh memberikan solusi; ya, biarkan saja solusi itu berperan dengan sendirinya; mungkin tdk hari ini merubah suasana atau suatu kondisi tertentu, melainkan hari-2 dst, mendatang perubahan itu terjadi.

Sebab meskipun suasana memberikan masukan dibentuk dalam suasana santai dan keakraban  (melucu) tanpa diselipkan pesan2 tertentu sebagai alternatif memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi maka bagikan omong kosong belaka.;

Dalam kaiatannya dengan firman Tuhan, seseorang dianjurkan tidak melakukan kedua hal itu; bersilat kata atau omong kosong, berarti seseorang dalam menyampaikan pesan-pesan firman Tuhan, harus menjauhi suasana pelayanan firman tuhan dengan berdebat atau perdebatan tanpa ujung dengan membuat/menerangkan atau menjelaskan sesuatu sehingga secara berlebihan atau menambah-nambahi yang pada akhirnya tidak mencapai sasaran; jika tidak mencapai sasaran, berakhir dengan ‘dosa’

  1. Ayat 17 – 19

Pada ayat ini, Sesuatu cerita terutama yang berbau negatif atau menjurus kearah mistis, akan lebih menarik perhatian daripada cerita biasa maupun cerita yang banyak membawa pesan positif (nasehat-2); misalnya ada pemberitaan Firman yang mengambil contoh berbau gosip tentang Pdt muda dg janda muda di suatu pelayanan di daerah terpencil.

Bahkan cerita atau Firman yang diberitakan dengan berbagai bumbu yang menarik dan biasanya yang bikin menarik kalau isinya hal2 yang mustahil terjadi; misalnya: ada cerita dari suatu sekte tertentu yang percaya pada Yesus Kristus sebagai utusan Allah; katanya dulu sewaktu hidupnya Yesus Kristus  di dunia ini, IA berjalan tidak menapaki/menyentuh  bumi, seolah tidak menyatu dg bumi.

Jika cerita yg dilebih-2kan makin dibumbui, maka akan cepat menjalar bagaikan penyakit kanker, dan bisa berakibat yang fatal bagi yang mempercayainya;

Bagi yang percaya pada Yesus sebagai Juru selamat dan Tuhan, bisa memiliki rasa apatis; dan tidak perlu bekerja atau belajar untuk meningkatkan pengetahuannya supaya dapat menemukan penemuan ilmiah tertentu.

Jika didapatkan orang-2 yang salah dalam memahami karya Yesus Kristus di bumi ini, akan salah menafsirkan dan salah menerima berita firman Tuhan tentang kebangkitan orang mati; yang pada masa itu diberitakan “sudah berlangsung”.

Karena sudah berlangsung, lalu membuat orang itu mengabaikan norma bermasyarakat; bahkan suatu perbuatan yang jahat bisa dianggap benar; contohnya: membunuh demi membela agama;

Jikalau firman Tuhan mengatakan: supaya manusia meninggalkan kejahatan, maka firman itu mengajak manusia supaya membangun dirinya untuk selalu berbuat baik; bagi sesamanya dan baik untuk dirinya sendiri atau kebaikan orang itu dapat diterima secara umum.

  1. Ayat 20-23

Sepertinya akan membuat orang menjadi ragu-2, jika membaca firman Tuhan diatas, dimana khususnya Tuhan mengajak/memerintahkan kata-2 ini: “jauhilah nafsu orang muda”; menjauhi nafsu bukan berarti meniadakan nafsu, tapi mengendalikan nafsu sehingga sesuai dengan porsinya (proporsional); misal: kita akan mudah menemui orang yg masih muda itu mudah meletup kemarahannya oleh karena hal-2 sepele; atau keserakahannya ingin memiliki sesuatu sehingga terlibat perbuatan kejahatan.

Untuk mempertanggung jawabkan akhirnya harus diadili; tapi seseorang yg meskipun muda, kalau ia benar-2 memahami atau mengetahui firman Tuhan; bahwa ia harus bisa mengendalikan dirinya; maka orang muda ini akan hidup aman-2 saja, bahkan akan memberikan kedamaian bagi sesamanya; karena bisa menjadi contoh.

Lain lagi kalau orang muda senang menghamburkan nafsunya; kita ambil contoh: geng motor (dlm arti negative dan eksklusif); maka mereka cenderung merusak sesamanya atau lingkungan dan buah yg dipetik adalah cibiran, karena perilaku moral buruk yang telah ditunjukkan. (pada saat berkelompok merasa super, ingin diindahkan orang lain, tapi lupa diri)

4. Ayat 24-26

Pernahkah anda bertengkar ?; disaat dan dikondisi apapun? Jika kita membaca kata-2 “ (ayat 24-25); ternyata tugas sebagai hamba Tuhan sudah ada portalnya: pertama-2 adalah Tidak boleh bertengkar (berarti seorang hmba Tuhan harus benar-2 bisa mengendalikan emosi atau nafsu marah atau mengendalikan diri untuk tidak menguasai/mengekploitasi kemauan orang laen; bukan berarti lalu juga mengikuti keinginan orang lain, bahkan hrs cakap mengajar (berarti harus berani & bisa memberitakan firman Tuhan dengan bertanggung jawab;  dengan lemah lembut menuntun orang supaya bertobat, percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.; karena Firman Tuhan selalu sebagai: “pisu bermata dua”; yang diberitakan akan mengenai juga pada yang memberitakan atau yang memberitakan harus selalu introspeksi; supaya firman itu benar-benar nyata menimbulkan dampak kedamaian dan sejahtera untuk semua manusia.

kiranya Kristus memberkati

Amin

Posted by: herrybudiman | May 6, 2010

Dogma Manusia

Dogma Manusia

1. Doktrin Manusia

Pentingnya Doktrin manusia adalah untuk mengetahui eksistensi atau keberadaan manusia dalam arti sebagai mahluk yang ada atau hadir dimuka bumi ini.
Bahwa untuk memahami manusia dalam multi aspek yang cenderung unik dan mandiri, berbeda satu dengan lainnya meskipun masing-masing dianggap memiliki satu sifat dasar atau nilai yang sama yaitu kabaikan. Namun digerogoti oleh pemahaman yang melunturkan sifat personalitas, yang mana pemahaman yang menggerogoti sifat dasar manusia ini dapatlah diantaranya disebutkan sebagai “factor-faktor berikut: supremasi teknologi yang terus meningkat, tumbuhnya birokrasi, meningkatnya metode-metode produksi masal, dampak media masa yang semakin besar”, dan berbagai aktivitas yang cenderung manipulatif seperti untuk menggantikan penerusan generasi yang lazim dalam perkawinan namun karena ketidak mampuan berproduksi secara alami, maka dilakukan inseminasi buatan, atau bayi tabung, sehingga mempengaruhi pola pikir tentang martabat manusia.
Meskipun telah melibatkan para filsuf, sosiolog, psikolog, psikiater, pakar etika, aktivis social, yang masing-masing mencoba dengan keahliannya ingin mengungkapkan keberadaan manusia namun kenyataan yang didapat belumlah memadai memuaskan hasrat yang senyatanya dalam .menjawab apakah manusia itu.
Ada yang mencoba melihat manusia ditinjau dalam aspek/segi antropologi:

a. antropologi idealistic; yang menguraikan manusia pada dasarnya adalah roh dan tubuh fisiknya merupakan hal yang asing bagi nature sejatinya. Pandangan yang diungkapkan oleh Plato, dengan inti pandangan filsafatnya adalah roh memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari tubuh badani dan menyetujui pandangan kekekalan jiwa tetapi menyangkal kebangkitan tubuh, antropologi ini cenderung menekankan pada pengertian “jiwa” atau “rasio” seseorang dan menyangkal keberadaan struktur materinya.

b. Antropologi materialistic, mengungkapkan keterbalikan dari pandangan idealistic, yang menganggap bahwa manusia adalah sejatinya hanyalah terdiri dari tubuh sebagai unsur berbagai materi yang nyata kelihatan sedangkan kehidupan mental, emosional bahkan roh hanya merupakan produk sampingan dari struktur materialnya; sehingga secara individu manusia tidak mempunyai tanggung jawab atas kejahatan yang ada namun masyarakatlah yang harus bertanggung jawab, dan yang ingin dicapai adalah bukanlah keselamatan individu namun keadaan masyarakat yang sempurna dalam satu integrasi sebagi sekumpulan orang yang mendiami muka bumi ini. Esensi dari antropologi ini menekankan kemutlakan sisi fisik manusia dan menyangkal keberadaan sisi “mental” atau “spiritual”.
Dan sebagai manusia yang pada hakekatnya percaya bahwa keberadaan manusia itu ada oleh karena ada yang menciptakan atau membuatnya yang dianggap sebagai penguasa tertinggi yang tidak dapat diselami oleh akal pikiran manusia maka, antropologi diatas dapat dianggap sebagai antropologi yang cacat.

Sedangkan pandangan manusia dilihat dari sudut pandangan Kristen sebagai antropologi Kristen hendak mengungkapkan tentang keberadaan manusia sebagai makluk yang diciptakan oleh suatu kekuatan super natural yang disebut Allah, sehingga dapat mengungkapkan akan kebenaran bahwa manusia dijadikan menurut gambar Allah, dan ini mengarahkan pemikiran manusia kepada suatu pemahaman tentang manusia dan Allah. Dimana manusia dipahami sebagai suatu pribadi tertentu/khusus yang sengaja diciptakan oleh Allah.

2. Pandangan filsafat dunia pada umumnya dengan pandangan alkitabiah tentang manusia

Perbedaan yang paling esensi antara Filasafat dunia dengan Alkitabiah tentang manusia, yaitu secara prinsip filsafat dunia menganggap bahwa Allah itu tidak ada (Ateis/Skeptis), sehingga sentralnya kehidupan dibumi ini ada pada akal/pikiran manusia, jika manusia tidak berfikir maka dunia ini dianggapnya tidak ada, jika manusia ini tidak merasakan adanya persinggungan dengan dunia ini, maka dunia ini adalah semu; sehingga apabila manusia mati ya- dianggap sebagai kesudahan kehidupan atau dalam arti lain, sesudah kematian tidak ada kehidupan lagi dalam bentuk apapun, karena anggapan para filsufnya bahwa sesuatu yang terjadi harus dapat dibuktikan, dan apabila tidak dapat atau ada bukti yang dianggap cukup, maka itu disebut khayali atau omong kosong; lebih jauh lagi ada yang memnggap bahwa agama dengan alkitabnya adalah candu masyarakat.

2. Pandangan Plato dan Aristoteles tentang manusia

Filsuf Plato memandang dunia yang kelihatan oleh mata kita dan yang dapat disentuh dengan tubuh kita di dalam realita sebenarnya hanyalah sebuah dunia bayang-bayang. Dunia ini merupakan suatu tiruan dunia kekal dari Bentuk-bentuk yang bersifat rohani (spiritual) yang dapat dicapai oleh jiwa yang murni melalui perenungan falsafih.; berdasarkan pandangan tersebut dapatlah diuraikan bahwa Plato memandang keberadaan manusia adalah juga sebagai suatu tiruan atau bayang-bayang dari keberadaan manusia secara utuh yang dapat mencapai kesempurnaan apabila roh atau spiritual manusia menjadi utuh kembali.

Filsuf Aristoteles memandang dunia ini keberadaannya oleh karena adanya satu Kausa Pertama (Penyebab yang Utama) yakni penggerak sesuatu yang tidak digerakkan (Unmoved Mover), dimana penggerak ini terlebih dahulu memulai membentuk atau menciptakan namun kemudian meninggalkannya sehingga bagaikan sebuah mesin otomatis yang bergerak sendiri.

3. Aajaran alkitabiah tentang manusia

Ajaran pokok alkitabiah tentang manusia adalah:
Manusia dibentuk/diciptakan oleh Allah adalah segambar dan serupa dengan Allah; hal ini ditunjukkan pada Kitab Kejadian 1: 26 – 28, berbunyi: (26) Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (27) Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-bururng di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Dari firman/kitab Kejadian tersebut, ada hal yang perlu mendapatkan perhatian kita, bahwa pada waktu Allah menciptakan/membentuk manusia, maka hendak dinyatakan-Nya bahwa manusia memiliki kedudukan yang istimewa atau lebih tinggi derajatnya dari segala ciptaan-Nya yang lain, sehingga manusia diberi olehNya suatu kewenangan atau kuasa agar dapat mengelola keberadaan bumi dengan segala isinya (mahluk lain/binatang), yang mengidentikan bahwa ada kedudukan khusus yang diberikan oleh Allah kepada manusia ini, sehingga oleh karena adanya mandat ini manusia digambarkan memiliki suatu ciri khusus atau karakter khusus sebagai penguasa; dan hal ini tentunya dapat diartikan sebagai bahwa Allah memberikan hak-hak tertentu kepada manusia untuk mengelola bumi dan segala isinya namun juga meminta pertanggung jawaban akan pengelolaan yang telah dilakukan manusia itu agar berlangsung sesuai dengan kehendakNya, meskipun kehendak Allah dinyatakan belakangan setelah manusia jatuh di dalam pencobaan, menjadi manusia berdosa dihadapan Allah; sehingga manusia yang serupa dan segambar dengan Allah, dikutuk oleh-Nya, menjadikan manusia dalam mengelola bumi ini penuh dengan kesukaran-kesukaran, menghadapi kendala sehingga gambar atau rupa yang dimiliki manusia menjadi rusak atau hancur atau menjadi tidak jelas bentuknya.

4. Beberapa pandangan teolog tentang gambar Allah

-Irenaeus; menyatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, tetapi keserupaan manusia dengan Allah telah hilang saat kejatuhan manusia, sehingga diibaratkannya manusia ini yang terdiri dari daging adalah sebagaimana bernatur binatang, dan karena bernatur binatang, maka manusia ini hanya memiliki tubuh dan jiwa, sedangkan agar dapat menjadi serupa dengan Allah atau untuk mengembalikan keserupaan manusia dengan Allah, maka diperlukan adanya karya Roh, (Roh Kudus), dimana pribadi sebagai Roh ini terdapat dalam diri Kristus.

-Thomas Aquinas; dalam magnum opus-nya, Summa Theologica, menyatakan bahwa manusia yang memiliki karakter serupa/segambar dengan Allah, letaknya ada di dalam kecerdasan atau rasio manusia, sehingga gambar Allah ini hanya dapat ditemukan di alam pikiran manusia, sebagai kecerdasan manusia yang merupakan kualitas manusia yang paling menyerupai Allah;

lebih lanjut ia mempersepsikan gambar Allah yang ada dalam diri manusia dalam tiga tahap, yaitu:

(1) Manusia berpotensi untuk memahami dan mengasihi Allah secara alami.

(2) Manusia secara aktual atau kebiasaan dapat mengenal dan mengasihi Allah, namun belum secara sempurna, dalam pengertian pada taraf manusia menjadi benar.

(3) Manusia secara aktual mengenal dan mengasihi Allah secara sempurna, yang ia definisikan sebagai manusia yang terberkati.

-John Calvin; menyatakan bahwa manusia adalah gambar Allah; gambar yang dimiliki manusia hilang atau menjadi rusak atau dihancurkan oleh dosa. Oleh karena keberadaan manusia dikatakan sebagai memiliki gambar yang terletak di dalam jiwa, atau dalam pikiran dan hati, meskipun pada akhirnya gambar ini akan dipulihkan oleh Allah karena karunia yang diberikan bagi manusia, maka kesempurnaan manusia yang memiliki gambar Allah dipulihkannya didalam jiwa dan tubuh.

-Karl Barth; menyatakan bahwa gambar Allah yang ada pada diri manusia, tidak tedapat pada jiwa atau strukturnya, wataknya dll, namun karena pada mulanya Allah dianggap membentuk/menciptakan bahwa manusia tediri dari laki-laki dan perempuan, maka anggapannya tentang gambar Allah yang terdapat pada manusia itu adalah nampak pada perjumpaan manusia laki-laki dan perempuan, dimana pada satu alternatif laki-laki bisa menjadi perempuan dan sebaliknya, sehingga perjumpaan ini dianggap sebagai mencitrakan akan gambar Allah yang ada pada diri manusia.

-Berkouwer; menganggap manusia memiliki gambar Allah terletak dalam posisinya apabila manusia dapat meninggalkan kehidupan lamanya untuk menjadi manusia baru, pandangannya ini diarahkan pada persepsi yang menunjuk kepada diri Yesus Kristus, yang dinyatakan sebagai mencerminkan secara total akan gambar yang sempurna daripada Allah dengan titik fokus atau sentral pandang adalah dalam kasih yang ditunjukkan Kristus pada manusia, kasih-Nya yang ajaib.

Sumber Bacaan/Pustaka:
1. ———-, Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, 1974
2. ———, Alkitab, elektronik 2.0.0; Lembaga Alkitab Indonesia, 2002.
3. Anthony A. Hoekema; Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah, Momentum, Surabaya, 2004.
4. Colin Brown; Filsafat dan Iman Kristen, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Momentum, Surabaya, 1994.
5. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid II, Yayasan Komunikasi Bina Asih / QMF, jakarta, 2003, hal. 583 – 598.
6. Walker, D.F; Konkordansi Alkitab, Kanisius, Yogyakarta, 1994
7. Internet: http://www.christianswers.net/dictionary/sonofgod.html, okt.18.2004

Posted by: herrybudiman | April 29, 2010

JADIKAN TUHAN PEMIMPINMU

JADIKAN TUHAN PEMIMPINMU
Mikha 6 : 1-8
6:1 Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu!
6:2 Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel.
6:3 “Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!
6:4 Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu.
6:5 Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan oleh Balak, raja Moab, dan apa yang dijawab kepadanya oleh Bileam bin Beor dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari TUHAN.”
6:6 “Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?
6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”
6:8 “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Syalom,

Mikha adalah kependekan dari Mikhayehu, yang berarti “Siapakah seperti Yahweh?” (YHWH).
Nabi Mikha bernubuat pada masa pemerintahan Yotam, Ahas dan Hizkia dari Yehuda. Nabi Mikha hidup sejaman dengan Nabi Yesaya, tetapi Yesaya lebih tua dari Mikha. Nabi Yesaya bekerja lebih dahulu yaitu sejak masa pemerintahan Raja Uria.
Situasi yang dihadapi oleh kedua Nabi ini waktu bernubuat sama. Suatu kemungkinan besar kedua nabi ini sering berkomunikasi atau membuat suatu pertemuan dari hati ke hati, sebab pada kedua tulisan-tulisan kedua nabi ini terdapat persamaan tentang perasaan-perasaan, ucapan-ucapan dan keterangan/ungkapan yang ditulisnya.
Sesuai latar belakang pendidikannya, Nabi Yesaya bertugas dikalangan Istana dan pemerintahan di Yerusalem sedangkan nabi Mikha berasal dari kalangan petani, ia bertugas di kalangan masyarakat biasa.
Meskipun nabi Mikha ada di masyarakat biasa tapi ia mengetahui situasi yang sedang berkembang di pemerintahan dan diantara pemimpin agama di Israel.
Sungguhpun di masa pemerintahan Yotam, Yotam telah berkuasa sebagai pemimpin dan pemerintahannya melakukan apa yang benar di mata Tuhan (telah sesuai dengan kehendak Tuihan), tetapi bukit-bukit pengorbanan pada masa itu sebagai tempat untuk mengorbankan sesuatu yang ditujukan bukan kepada Tuhan melainkan kepada dewa-dewa atau berhala tidak dijauhkan / atau dihancurkan. Bahwa bangsa Israel masih mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan itu (2 Raja-2 15:34-35).
Sesudah Yotam, kemudian Ahas memerintah dengan kekuasaan yang dipunyainya tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Bahkan anaknya sendiri dipersembahkan sebagai korban dalam api (2 Raja-2 16: 2-3), sehingga dapat dipahami dari kedua pemerintahan itu telah terjadi ketidak adilan, korupsi, suap, pembunuhan keji dan penindasan-2 kepada rakyat sangatlah merajalela di Yehuda.

Nabi Mikha mengutuk para pemimpin Yehuda yang korup, nabi-nabi palsu (ternyata pada waktu itupun sudah ada nabi-nabi palsu), iman-iman fasik (iman yang munafik = secara lahiriah menampakkan kesalehannya tapi secara batiniah sangatlah kejam terhadap sesama untuk mengekploatasi manusia lain demi kepentingan diri atau kelompoknya), atau pedagang-pedagangpun berlaku tidak jujur dan hakim-hakim yang harusnya menegakkan kebenaranpun lebih senang dengan suap dan korupsi.

Nabi Mikha berkhotbah menentang kejahatan (ketidak adilan, penindasan terhadap para petani atau penduduk desa, keserakahan, kekikiran, kebejatan moral dan penyembahan berhala). Nabi Mikha juga mengingatkan akan akibat yang ditimbulkan yang sangat berat jikalau umat dan para pemimpin mereka terus menerus melakukan kejahatan.

Pelayanan yang dilakukan baik oleh nabi Yesaya maupun Nabi Mikha sangat berperan dalam melakukan pembaruan yang dilakukan oleh Raja Hizkia dan Hizkia melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan tepat seperti yang dilakukan Daud bapa leluhurnya. karena pada masa itu, pada awal masa Raja Hizkia, penduduk bahkan para imam israel masih melakukan ritual membakar korban bagi patung ular, yang pada zaman itu disebut Nehuztan ( II Raja-2 18:3,4); tapi pada masa kejayaan Raja Hizkia. Raja Hizkia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan, dan meremukkan tugu-tugu berhala dan menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat semasa zaman nabi Musa

Pasal 6 ayat 1 & 2, Tuhan menegur Israel sebagai umat-Nya, karena keadaan kehidupan mereka pada masa itu penuh diwarnai dengan penyembahan berhala dan ketidak adilan. Pada masa itu di mata Tuhan seakan-akan tidak ada lagi yang mau mendengar suara Tuhan. Oleh karena itu Tuhan melalui nabi Mikha melancarkan pengaduan di depan gunung-gunung dan bukit-bukit supaya mendengar suara Tuhan. Tuhan menginginkan supaya Israel sebagai umat-Nya mau mendengar suara Tuhan, sebab ia mengasihi umat pilihan-Nya itu. Sungguhpun mereka telah memberontak terhadap Tuhan Allah Israel ( pada masa itu bangsa Israel menyebut-Nya sebagai Yahweh (YHWH). “Umatku apakah yang telah Kulakukan kepadamu?, dengan apakah telah kulelahkan kamu ?”, ini adalah suatu pertanyaan sekaligus pernyataan sebagai teguran yang keras dari Tuhan Allah kepada umat-Nya.
Adakah sesuatu yg salah dilakukan Tuhan semenjak Tuhan menuntun umat Israel keluar dari tanah Mesir, dengan mengutus Musa hamba-Nya itu ?,
Ternyata pada saat Balak menginginkan Bileam mengutuk Israel, Tuhan tetap memberikan/ mengucapkan berkat. Dan semua yang telah Tuhan perbuat adalah untuk keselamatan Israel. Dalam hal ini Tuhan menginginkan umat-Nya mengakui perbuatan-perbuatan keadilan Tuhan.

Jika kita memperhatikan isi pasal 6 ini , Firman Tuhan mengajarkan kepada umat manusia suatu “NASIHAT SUPAYA BERTOBAT”, dan mau menjalani kehidupan menyerahkan diri sepenuhnya dalam tuntunan bimbingan dan pertolongan Tuhan; sehingga akal budi manusia dibentuk dan dipimpin dalam berfikir serta bertindak dalam kehendak-Nya .

Dalam kehidupan saat ini lalu apa yang telah terjadi diantara kita sebagai umat Kristus, saya sebut saudara sekalian adalah umat Kristus, bukan Kristen (karena ada sementara orang yang percaya terhadap Alkitab (Bible/PL & PB), tapi tidak mau mangakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya, tapi orang-orang ini senang mendompleng pada jati diri sebagai umat ‘kristen’.

Keadaan saat ini yang hampir sama dengan situasi dan kondisi zaman bangsa israel dahulu dan pertanyaan yang sama dapat disampaikan kepada kita semuanya: “Umatku apakah yang telah Kulakukan kepadamu?, dengan apakah telah kulelahkan kamu ?” (Mikha 6 : 3), pertanyaan ini berlaku juga hingga saat ini kepada orang yang percaya yang telah atau tengah berpaling dari-Nya atau yang tidak setia atau berlaku munafik dan tidak melakukan kehendak-Nya atau setengah hati mengikuti kehendak Tuhan ?. dan kita masing-masing pun dihadapkan dengan situasi dan pernyataan Tuhan yang telah menegur itu.

Apabila kita hidup dengan cara-cara duniawi yaitu dengan melupakan keadilan,, tidak jujur, melakukan ketidak benaran / hidup memanipulasi diri, tidak berperilaku rendah hati dan tidak mau atau enggan bertobat meskipun merasa bersalah karena kalau bertobat menjadi malu ( bertobat berarti mengakui perbuatannya tidak hanya dihadapan Tuhan saja, tapi juga di depan sesama); bertobat memiliki konsekuensi mengakui bahwa diri pribadi sebagai manusia itu telah jatuh dalam kubangan dosa atau ketidak berdayaan manusia untuk melawan kuasa maut.

Sebagai warga gereja seringkali saya dan saudara-saudara sekalian berkelakuan seperti umat israel (secara sadar maupun tanpa menyadari), seakan-akan dengan melakukan upacara religius keagamaan (ritual), kebaktian-kebaktian baik seperti pada hari minggu, memberikan persembahan syukur (perpuluhan dll), maka menganggap sudah segalanya dan sudah cukup bagi Tuhan, terlebih lagi ada sebagian dari kita yang enggan beribadah atau beribadah hanya cukup dihari raya keagamaan tertentu seperti Paskah atau Natal, di kebaktian minggu saja malas hadir. Tapi merasa sudah cukup berbuat untuk Tuhan, padahal setelah usai kita melakukan kegiatan ritual-ritual tersebut, secara sadar kita kembali ingin menentukan/mengatur ritme kehidupan kita, dan kembali kidup seperti kebiasaan dunia ini; melupakan Tuhan dalam setiap merencanakan aktivitas atau memecahkan permasalahan hidup; kembali melakukan ketidak adilan, serakah, korupsi, tidak jujur dan sebagainya. sehingga segala firman Tuhan hanya ada dalam ibadah rutin seminggu sekali,, Firman hanya menjadi pajangan dinding rumah atau Firman Tuhan, dinomor duakan atau bahkan tidak diingat sekalipun pada saat kita usai beribadah ruitn, kembali kelingkungan masyarakat dan kerja.

Apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Tuhan Yesus dari saudara dan saya, sehingga ia rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib ? apa yang diajarkan-Nya dan apa tujuan pengajaran-Nya kepada kita ?
Tuhan Yesus Kristus jelas menginginkan agar manusia diselamatkan dari dosa/maut kekal: oleh arena itu ada tertulis.“Karena begitu besar kasil Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Yesus sudah datang ke dunia, sudah menjadi manusia mengalami penganiayaan, penghinaan bahkan fitnahan sampai mati di kayu salib dan bangkit untuk mengalahkan kuasa maut; saat ini Ia datang kembali dan diam di hati manusia; sebagai Roh Kudus serta bekerja/berkarya di tengah kehidupan umat manusia yang menerima-Nya.

Dahulu selama keberadaanya secara fisik di dunia, Ia telah mengajarkan dan memberikan contoh–contoh bagaimana seharusnya manusia berperilaku dalam kehidupan di dunia ini supaya berkenan kepada Allah Bapa di surga; dan pada akhirnya manusia dapat kembali kehadapan tahta Allah untuk menikmati hidup kekal. Apakah kita yang sudah diselamatkan oleh Yesus Kristus, sudah hidup didalam Dia ?, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (I Yoh 2:6).

Yesus telah hidup dengan merendahkan diri-Nya dan bersedia mati kemudian bangkit untuk kita atau untuk manusia, Ia sudah menolong orang yang menderita atau miskin, menyembuhkan orang sakit, merangkul yang disisihkan (kaum papa) dan menegur yang salah, para Ahli Fikir, kaum cerdik pandai (Farisi, Saduki atau Ahli Taurat). Yesus juga memberikan pengharapan kehidupan kekal, menguatkan iman dan mengajarkan yang baik agar orang bartobat. Yesus sudah mengasihi kita agar kita mengasihi ALLAH dan manusia . dan pada akhirnya Tuhan juga memberikan berkat kepada kita: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik, dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu, selain berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan Allahmu?” (Mikha 6 : 8).

Haleluya.

amien

Pertanyaan renungan:
1. Sebagai orang percaya dan Gereja, bagaimana kita berani menegakkan kebenaran sesuai ajaran Tuhan Yesus Kristus ?
2. Apakah ukuran suatu perbuatan yang baik dan benar dimata Tuhan untuk mewujudkan damai di bumi ?
3. Pernahkah engkau merasakan adanya teguran-teguran dari Tuhan dan bagaimana engkau merespon teguran itu, supaya nama Tuhan tetap dimuliakan dan dipuji ?

Posted by: herrybudiman | April 27, 2010

Dogma Gereja, Roh Kudus dan Akhir Zaman

Dogma Gereja, Roh Kudus dan Akhir Zaman.
————————————-

Gereja yang kelihatan dengan Gereja yang tak kelihatan

1. Pemahaman tentang Gereja yang kelihatan dengan Gereja yang tak kelihatan.

Gereja tidak secara eksplisit dijumpai dalam Alkitab (Perjanjian Lama);
istilah dalam perjanjian lama adalah “qahal” (atau kahal), dengan arti memanggil, atau kata “edhah” yang artinya, memilih atau menunjuk.
Misal ayat yang mendukung: Kel.12:6 Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.; pengertian ayat ini menekankan pada kumpulan jemaah atau adanya jemaah yang bertemu bersama-sama di satu tempat yang telah ditunjuk atau sebuah pertemuan dari umat.

Sedangkan, Dalam Perjanjian Baru, menunjuk arti “ekklesia” (menurut Septuaginta), dipahami sebagai pertemuan secara umum atau ditafsirkan sebagai: keluar dari sekumpulan orang-orang atau Gereja terdiri dari orang-orang pilihan yang dipanggil keluar dari masyarakat.
Dalam Perjanjian Baru, kata Ekklesia digunakan sebanyak 111 kali, ayat pendukung Kis. 19:39 Dan jika ada sesuatu yang lain yang kamu kehendaki, baiklah kehendakmu itu diselesaikan dalam sidang rakyat yang sah. Atau Roma 8:30 Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.;

Pengertian lain yaitu Kuriakon (yang adalah milik Tuhan); Gereja adalah terdiri dari tubuh orang-orang percaya yang telah dipanggil keluar dari dunia, dan yang berada di bawah wewenang dan kekuasaan Tuhan Yesus Kristus, menekankan pengertian adanya perjamuan Tuhan atau Hari Tuhan.
Perjamuan Tuhan seperti tertulis pada 1 Kor 11:20:
Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.; keadaan berkumpul dan berseteguh hati, tekun mempelajari pengajaran tentang Kristus ; atau
(Kis. 2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.) atau yang berarti pada waktu Yesus menunjuk murid-murid yang ada bersama dengan Dia; dan
(Mat. 16:18); Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Untuk membedakan secara tegas antara Gereja yang Kelihatan dengan Gereja yang tidak kelihatan, maka dapat di pakai dengan pembatasan sebagai berikut:

– Gereja yang kelihatan, gereja-gereja local dengan berbagai identitas, yaitu kelembagaan yang berbentuk gereja (bangunan) sehingga menandakan akan identitas, sehingga gereja tampak kecil dan kurang memberikan suatu pemahaman universalitas, cenderung adanya persaingan, dalam mencari domba, dan terkadang tidak menyadari memakai cara yang negatif dalam mencari domba. Gereja-gereja yang kelihatan ini akan menonjol dalam aspek peribadahan sehingga dapat menunjukkan suatu denominasi. dan Gereja mengambil pola menentukan sendiri tata cara ibadah (liturgi).

– Gereja yang tidak kelihatan, dapat diidentifikasikan sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juru Selamat, Tuhan, Penebus Dosa. Atau Gereja yang ideal dan lengkap sebagaimana nanti pada akhir jaman (Why. 7:9 Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka.);
Dalam eksistensinya gereja yang tidak kelihatan akan terlihat dari orang-orang yang mengaktualisasikan kehidupannya secara prinsip kristiani; meskipun tidak memiliki suatu denominasi dalam pelayanan, namun karena sifatnya melekat pada setiap individu, maka gereja yang tidak kelihatan ini dapat diumpamakan sebagai surat-surat terbuka Kristus dan tubuh/manusia yang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Juruselamat & Tuhan

Dalam pluralitas denominasi, Gereja yang tidak kelihatan memberikan pelayanan atau menghambakan diri pada Yesus Kristus, dengan satu pengertian yang utuh, bahwa masing-masing gereja menyadari sebagai bagian dari tubuh Kristus atau dipersatukan dalam pemahaman untuk memberitakan kerajaan Allah dalam pribadi Yesus Kristus; Yesus Kristus sebagai pusat pengajaran dan anugerah keselamatan bagi orang yang percaya kepada-Nya.

Peran Roh Kudus dalam penciptaan dan pemeliharaan Alam semesta

2. Peran Roh Kudus dalam penciptaan dan pemeliharaan Alam semesta;

Peran Roh Kudus dalam penciptaan, adalah menggambarkan bahwa Roh Kudus turut aktif bekerja menjadikan atau menciptakan langit dan bumi beserta segala isinya (Mzm.33:6 Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya.);
Hal ini menunjukkan peran Roh Kudus dan penciptaan manusia dikerjakan oleh Roh (Ayb 33:4 Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup.);

Selain itu dapat ditelaah dari Kitab Kejadian, adanya peran hakiki bahwa Allah adalah Roh, telah menjadikan langit dan bumi (Kej.1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.) Dan melengkapi isi bumi ini dengan menciptakan/menjadikan/membentuk manusia dari debu dan memberikan nafas kehidupan, sehingga manusia itu hidup (Kej. 2:7 ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.).

Sedangkan dalam pemeliharan alam semesta, bahwa Allah selalu memperhatikan atau memelihara bumi, supaya tetap menghasilkan dan memiliki manfaat bagi manusia dan mahluknya, (Yes. 40:70:7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.) Atau dalam (Yes. 44:3 Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.). Dari ayat Alkitab diatas, terlihat jelas bahwa Allah atau Roh Kudus, berperan aktif memelihara kehidupan yang berlangsung di muka bumi ini. Bahkan pemeliharaan ini dinyatakan bukan hanya untuk sesaat pada masa awal dunia dijadikan, tapi dipelihara atau dicurahkan terus-menerus sampai ke anak cucu, yang berarti menegaskan suatu pemeliharaan yang tidak pernah putus.

3. Apakah Roh Kudus bekerja dalam kehidupan orang tak beriman ?
Tidaklah bisa dipungkiri atau harus diakui bahwa Allah/Roh Allah/Roh Kudus, tetap berperan dalam kehidupan di dunia ini, melalui pemahaman anugerah umum yang diberikan Roh Kudus kepada seluruh mahluk (manusia) tanpa membedakan apakah manusia itu disebut beriman atau tidak beriman.
Roh Kudus juga memelihara mereka artinya Roh Kudus tidak langsung memberikan hukuman kepada orang yang tidak beriman, namun dengan sabar Roh Kudus menantikan setiap orang untuk bertobat sehingga diselamatkan;
Dalam diri orang percaya (orang yang dikuduskan) maka Roh Kudus akan selalu mengingatkan pada orang (dalam hatinya) untuk tidak berbuat dosa, sebaliknya bagi orang yang belum percaya (tidak beriman) Roh Kudus tidak mengingatkan orang itu untuk tidak berbuat dosa;
Karena anugerah yang diberikan Roh Kudus adalah anugerah umum untuk memelihara alam semesta; maka manusia perlu memperoleh anugerah khusus/anugerah di-kudus-kan; untuk itu manusia harus mau menundukkan diri dulu atau mengalahkan akal pikirannya supaya tunduk di dalam kuasa Yesus Kristus, dalam kata lain, hati dan akal budi manusia harus mau mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Tuhan; sehingga akhirnya manusia itu di-’kudus’-kan dan akan dibentuk oleh Roh Kudus.

4. Peran Roh Kodus dalam kehidupan orang percaya:
Roh Kudus membuat orang lahir baru; menjadikan orang mampu menjauhkan dan meninggalkan dosa, bisa berbuat kebaikan/kebenaran sesuai kehendak Allah dan menjadikan manusia sebagai Anak-anak Allah, pewaris kerajaan Allah , contoh:
(Yoh 3:3-5 Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”
3:4 Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”
3:5 Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.).
Nyata bahwa manusia harus dilahirkan kembali adalah menjadi manusia yang berfikir dan bertindak kearah melakukan perbuatan baik/benar sesuai standar/ukuran kehendak Allah

Roh Kudus, menjadikan orang menjadi saksi kebenaran dalam diri Kristus; mengembalikan kemuliaan manusia, dan manusia menjadi kembali memiliki ’rupa dan gambar Allah’ secara sempurna, dan memberi kuasa kepada setiap orang yang percaya dapat melakukan/memampukan pelayanan untuk memenangkan jiwa-jiwa yang belum percaya; dan memampukan setiap orang percaya senantiasa mau hidup dalam Roh dan menang atas dosa (tidak tahan berbuat dosa).

5. Kesaksian dan cita-cita dalam bimbingan Roh Kudus.
Roh Kudus, yang saya yakini adalah Roh Allah sendiri dalam pengertian sebagai pembimbing/pelindung, tetap melakukan pekerjaannya bagi semua orang, hanya dalam pribadi yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus secara benar dan memahami maksud kedatangan-Nya di dunia ini tentunya ada perbedaan pemahamannya.
Saya sebut sebagai suatu perjalanan dalam mengenal Tuhan Yesus Kristus secara lebih mendalam, merupakan suatu kesaksian yang dimulai semenjak masih pemuda (lajang) hingga menjadi orang tua, sewaktu masih muda saya mengganggap bahwa diri pribadi saya sebelum mengenal sungguh-sungguh akan penyataan kasih dari Tuhan Yesus Kristus kepada saya, dalam menempuh kehidupan ini sering hanya mau menuruti kata hati untuk melakukan aktivitas yang lebih cenderung ke arah hura-hura mungkin hal ini adalah sesuatu yang wajar sebagai seorang manusia yang masih berjiwa muda sehingga suatu aktivitas/perbuatan yang dilakukan tanpa menyadari bahwa aktivitas itu kemungkinan menyinggung atau menyakiti hati orang lain. Contoh (klasik) adalah senang mengikuti Dugem (Dunia gemerlap malam), karena tidak pernah melakukan introspeksi secara benar, aktivitas tersebut dianganggap sebagai suatu perbuatan yang lumrah dilakukan oleh anak muda karena yang terpikir adalah hanya rasa senang hura-hura; meskipun masih dalam taraf kewajaran tidak terpengaruh pada narkoba atau terlibat suatu paham free seks; meskipun jika mau mudah melakukannya.
Jika dalam kehidupan beribadah sebagai orang Kristen, saya senantiasa taat mengikuti kegiatan kepemudaan atau rutinitas ibadah hari minggu atau secara kontinyu mengikuti ibadah-ibadah yang bersifat kepemudaan (Bidang Pelayanan Kategorial/BPK Pemuda); namun tak berfikir dalam mengikuti kegiatan ini apakah menjadikan lebih bermakna atau hanya sebuah rutinitas belaka. Saya tidak/belum begitu tertarik dalam dunia akademis yang mempelajari bidang Agama atau Teologi.
Kehidupan ini terus berjalan dan berlanjut hingga saya bekerja, dalam meniti karir pekerjaan-pun kadang masih mengikuti kegiatan Dugem bersama rekan sekerja, namun pada akhirnya kegiatan ini saya hentikan sesudah berumah tangga, hanya saja masih enggan untuk terlibat aktif di dalam pelayanan gerejawi.
Sesudah kurun waktu tertentu, dengan melihat dan mengetahui aktivitas sehari-hari dalam dunia industri bahwa dunia pekerjaan yang saya geluti, sedikit banyak menjadikan diri saya mengerti paham dunia bisnis ternyata dalam dunia bisnis menjadi hal yang lumrah terjadinya perilaku memberikan sesuatu sebagai balas jasa atau ucapan terima kasih karena dibantu kelancaran bisnisnya; contoh kasus yakni dalam suatu keterlibatan di kepanitiaan yang membidangi konsumsi, maka dalam pengadaannya sering harus melebihan atau membengkakan jumlah (mark-up) yang harus disediakan dengan mengingat akan rasa solidaritas kepada rekan sekerja lain, yang mesipun tidak ikut terlibat langsung namun harus ikut diperhatikan; hal-hal inilah terkadang menggelitik hati/nurani sepertinya ada suara atau bisikan dalam hati untuk tidak mau ikut terlibat, namun karena lingkungan pekerjaan maka sewaktu pimpinan menunjuk untuk menangani kegiatan bidang konsumsi atau dukungan umum, maka mau tidak mau harus menuruti.
Disisi lain setelah berumah tangga ada suatu kerinduan untuk ikut aktif dalam kegiatan gerejani, dengan mengikuti rutinitas bentuk ibadah sektoral atau rumah tangga, yaitu suatu ibadah rutin pada hari tertentu yang diselenggarakan di rumah-rumah jemaat secara bergiliran;
Ada suatu kejadian yang menurut saya hingga kini saya anggap sebagai suatu berkat yang dicurahkan kepada saya pribadi, bahwa saya pernah mengalami sakit penyakit batu empedu, dan ternyata harus dioperasi, karena kantung empedu sudah rusak dan harus diambil/dipotong atau dikeluarkan dari tubuh (tahun 1988); dari sinilah saya mulai introspeksi diri secara mendalam, karena menurut informasi yang saya peroleh apabila terjadi keterlambatan dalam pengoperasian, maka tidak mustahil sudah mengantar saya ke petak 2 x 1 meter (meninggal), dengan peristiwa ini pada akhirnya menuntun saya supaya lebih berani masuk kedalam kancah pelayanan di Gereja, sesudah mengalami proses pergaulan di lingkungan jemaat secara sektoral maka terjadi pemilihan majelis dan salah satunya saya harus mau dipilih oleh jemaat (yang saya yakini ini karena Roh Kudus yang memimpin jemaat) supaya menjadi wakil jemaat dari sektor tertentu sebagai majelis/pejabat gereja (diaken/penatua).
Dalam proses perjalanan melayani Yesus Kristus ternyata dituntut untuk lebih memahami secara mendalam Alkitab sebagai Firman Tuhan; karena sebagai Majelis secara waktu tertentu mendapatkan tugas untuk berkotbah menyampaikan Firman Tuhan, secara berpindah-pindah dari sector yang satu ke sector yang lain di warga gereja oleh karena itu butuh suatu pengetahuan yang mendalam agar tidak menyampaikan firman Tuhan dengan sembarangan (sempit wawasan) tapi dengan sungguh-sungguh sebagai bentuk pelayanan yang dikehendaki oleh Allah.
Yang akhirnya sesudah menjalani kegiatan gerejani menjadi Majelis +/- 7 tahun, saya menyadari masih sering membuat kesalahan dalam memaknai Firman Tuhan; meskipun jemaat juga kurang memahami, sehingga mereka mungkin karena juga tidak memahami dengan baik, maka tidak melakukan protes tapi yang protes adalah nurani saya sendiri, karena kadang-kadang merasa apakah sudah benar dalam menyampaikan makna Firman Tuhan untuk membangkitkan semangat atau motivasi jemaat dan menguatkan iman jemaat, sehingga menjadi sungguh–sungguh mengetahui dan mau menuruti Firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari;
Timbulah dibenak saya bagaimana caranya untuk mendalami Firman Tuhan, maka satu-satunya cara adalah mengikuti pendidikan secara resmi di lembaga pendidikan atau Sekolah Tinggi Teologi tentunya pemikiran ini timbul karena peran Roh Kudus yang mengarahkan pikiran atau hati saya untuk berani masuk ke Sekolah seperti ini; dengan mempertimbangkan untuk kemudahan transportasi dan agar dapat menyesuaikan waktu dalam belajar karena saya masih bekerja di suatu Perusahaan Perseroan, maka saya memberanikan diri mendaftar ke Sekolah Teologia di bandung; dengan mengikuti proses pendaftaran yang dipersyaratkan oleh sekolah tinggi ini; dan setelah menjalani proses pendidikan dalam dua semester ini ada dampak yang saya rasakan, saya merasa lebih berani atau percaya diri dalam menyampaikan firman Tuhan, karena mengerti ilmu atau cara berkotbah yang baik yang umum dan khusus digunakan; dan bisa merasakan adanya penyimpangan penyampaian Firman Tuhan yang dilakukan oleh hamba Tuhan lain (hal ini saya sadari sebagai suatu peran dari Roh Kudus yang merasuki alam pikiran saya), namun hal itu saya gunakan sebagai bahan masukan secara pribadi supaya tidak mengulang kesalahan yang umum dilakukan oleh para hamba Tuhan.
Sebagaimana contoh yang sering terjadi dalam pemahanan Baptisan; dulunya saya tidak berani menyataan bahwa Baptisan harus dilihat makna Baptisannya sebagai hal yang mutlak yaitu dibaptis dalam nama Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus, sedangkan cara membaptis adalah tidak mutlak; karena ternyata di lingkungan jemaat ada yang sering bertanya, apakah betul lebih afdol atau lebih Alkitabiah jika seseorang mengikuti baptisan dengan cara baptis selam, dibandingkan dengan percikan.
Karena pemahaman ini bisa mengakibatkan seseorang menjadi ragu-ragu atau goyah sehingga ada yang mengikuti baptisan ulang secara selam (karena di lingkungan atau peraturan Gereja yang saat ini saya mejadi anggota jemaatnya adalah menganut baptis secara percik);
Atau pemahaman tentang Bahasa Roh; yang ternyata juga bukan sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh setiap jemaat atau hamba Tuhan dalam melayani jemaat dan Kristus.

Pengetahuan yang lain adalah dalam menafsirkan Ayat-ayat Firman Tuhan, dalam memberikan penafsiran atau pelayanan firman, maka harus berusaha menafsirkan dengan tidak hanya melihat pada bunyi kalimat/kata yang ada pada Alkitab dengan cara memotong ayat tapi adalah harus melihat secara menyeluruh sebagai sebuah perikop (lebih menafsirkan secara ekpositori atau terkadang topikal); tentunya dengan mempertimbangkan konkordansi.

Disamping itu masih dalam pergumulan saya sampai saat ini sebagai satu hal yang menggelitik hati dan fikiran adalah keinginan untuk menulis atau memberitakan Firman Tuhan dalam bentuk tulisan pada sebuah buku kerohanian atau teologia dan terjun langsung (menggunakan waktu penuh) dalam bentuk pelayanan yang berbentuk lembaga/yayasan sosial.

Akhir Zaman, tentang post millennium, pre millennium dan a-millenium

6. Tentang post millennium, pre millennium dan a-millenium
Ada 3 (tiga) posisi Akhir Zaman:
a. Post millenium;
b. Pre millenium;
c. A millenium.

Ketiga posisi ini memahami suatu keadaan adanya masa / zaman tertentu yang akan dikuasai (oknum) anti Kristus (tribulasi); sesudah dikuasai anti Kristus, maka masuk ke suatu/kurun masa 1000 tahun sebagai penghakiman dan berlanjut adanya masa/zaman baru; pembentukan dunia yang baru.

Post millennium, memahami adanya keadaan manusia yang penuh perdamaian/sejahtera sebelum adanya anti Kristus, manusia bisa mengusahakan damai sejahtera di bumi ini karena mendasarkan pada asumsi bahwa manusia memiliki sifat baik;

Pre millenium, usaha-usaha yang dilakukan manusia yang mengganggap bisa atau mampu menjadikan dunia ini aman, ternyata meleset dengan adanya perang; (misal. PD I atau PD II) sehingga manusia menjadi pesimis,
Paham ini dianggap tidak terbukti, karena manusia ternyata lebih mengedepankan ego atau harga diri untuk mendamaikan; mengganggap diri atau kelompoknya adalah sebagai yang terbaik, terpilih atau ditakdirkan untuk menjadi pemimpin dunia atau menjaga kedamaian di dunia.

A millennium; manusia akan menghadapi suatu persaingan yang lebih hebat namun tidak dalam bentuk peperangan fisik, meski pada akhirnya tetap membuat manusia lebih sengsara dan dalam masa tertentu sesudah kesengsaraan yang hebat ini, akan muncul suatu penghakiman Selama 1000 tahun.
Sebelum terjadi pemusnahan manusia (atau pemilihan manusia kepada siapa manusia dipilih atau dibinasakan), sehingga fenomena ini adalah menggambarkan keadaan akhir zaman.
Akhir Zaman
Dalam memahami fenomena Akhir Zaman secara Alkitabiah, atau banyak orang Kristen percaya bahwa kedatangan kembali Tuhan Yesus Kristus kedunia ini dengan cara yang sama seperti waktu Ia terangkat ke Surga (Kisah Para Rasul 1:11 dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”); namun kepastian tanggal, bulan atau tahun kedatangan-Nya tidak ditunjukkan, semestinya dikaitkan dengan nats Alkitab yang lain (Mat. 24: 24:36 “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa sendiri.” Dan 24:43 Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.); bisa ditafsirkan, bahwa manusia harus berjaga setiap saat atau kata lainnya: siap sedia, kapan, dimana dan dalam saat apapun untuk menghadap Tahta Kristus. Atau yang akan menjadi Hakim yang Adil, yang menghakimi manusia adalah tahta Kristus. Sebagaimana tertulis: (Yohanes 5:22 ‘Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak”).

Posted by: herrybudiman | April 26, 2010

KEPEMIMPINAN KRISTEN

KEPEMIMPINAN KRISTEN

Ada 3 (tiga) hal yang akan disenarai, meliputi:

Kepemimpinan, Manajemen & Gaya Kepemimpinan.

1. Kepemimpinan.

Definisi kepemimpinan memiliki banyak versi, selama figur yang akan mendefinisikan dapat memberikan penjelasan yang memadai untuk mempengaruhi orang lain agar menerima pendapatnya.
Pada tulisan ini, penulis mencoba mengambil definisi berdasarkan pendapat dari: James AF.Stoner, menyatakan: “Kepemimpinan sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas dari anggota kelompok”. 1) Dari definisi tersebut dapat diurai: Pertama, bahwa Dalam Kepemimpinan harus ada figur lain yang dilibatkan (sebagai bawahan atau pengikut); Kedua, adanya pendistribusian kekuasaan yang tidak merata pada kelompok yaitu antara Pemimpin dan yang dipimpin dan Ketiga, dalam kepemimpinan harus ada yang bertindak sebagai pemimpin dan dapat mempengaruhi kelompoknya supaya melakukan tugas dengan benar dan baik.
Pada aspek yang menyangkut bagaimana ciri-ciri Pemimpin, dapat dibuat suatu asumsi bahwa pemimpin adalah memiliki tubuh yang tinggi (perawakan yang elok), otak yang cemerlang, mudah bergaul/terbuka, sangat percaya diri, memiliki suaru lantang; meskipun asumsi ini dapat saja tidak berlaku secara universal; yang berarti ada orang/figur tertentu diluar ciri-ciri itu dapat menjadi pemimpin.

2. Manajemen ;

dapat diartikan sebagai: “seni untuk melaksanakan pekerjaan melalui orang lain”.2)

Karena bersifat seni, maka dapat disebutkan sebagai suatu cara untuk mengatur, mengarahkan dan mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan sesuatu sehingga mencapai tujuan yang diinginkan. Manajemen juga mengandung pengertian sebagai proses, dimana proses ini berlangsung atau dilakukan dengan cara yang sistematis berdasarkan realita untuk melakukan sesuatu tindakan, dan proses yang dilakukan ini memiliki beberapa aspek, yang sering disebut:
(1) Perencanaan (Planning), memiliki fungsi bahwa sebelum aktivitas dilakukan secara terus-menerus, maka didahului dengan menyusun suatu rencana agar aktivitas dilakukan dengan koridor kegiatan yang jelas.

(2) Pengorganisasian (organizing), mengandung pengertian bahwa sumber daya yang dimiliki suatu institusi perlu dikoordinasikan, sehingga terarah dalam mencapai tujuan.

(3) Memimpin (leader), upaya yang dilakukan supaya sumber daya manusia dapat terarah dan terpimpin dalam melakukan aktivitasnya dengan terlebih dahulu perlu diciptakan suasana yang tepat dan terkendali.

(4) Pengendalian (controlling), suatu bentuk tindakan untuk menjaga agar arah yang akan dicapai tetap berjalan pada koridor yang disepakati dan mengendalikan adanya hal-hal yang menyimpang, yang dapat membahayakan atau menggagalkan pencapaian tujuan.

3. Gaya Kepemimpinan
Yang sering dikenal secara luas daripada gaya kepemimpinan adalah Otoriter, Demokrasi dan Laizes-faire.
Gaya Kepemimpinan Otoriter, adalah Pemimpin sebagai pusat kekuasaan dan pengikut/bawahan adalah bagaikan sebuah mesin yang hanya dan harus menuruti perintah atasan.
Gaya Kepemimpinan Demokrasi, meletakkan fungsi pimpinan sebagai mitra bawahan sehinga keputusan-keputusan yang diambil atasan setelah mendapatkan masukan yang memadai dari kelompok.
Gaya kepemimpinan Laises-faire adalah model yang menempatkan pimpinan seolah-olah hanya sebagai fasilitator, sehingga keputusan yang diambil lebih banyak berdasarkan pendapat dari kelompok/bawahan.

Adapun gaya kepemimpinan akan menjadi efektif, bilamana seorang pemimpin dapat memadukan gaya tersebut diatas untuk diterapkan pada situasi dan kondisi yang sesuai, atau sering disebut sebagai model pemimpin situasional.;

model pemimpin situasional , ini dapat dikategorikan dalam:

a. Situasi Arahan; yang mengarah pada pola proses pengambilan keputusan satu arah, dilakukan oleh pemimpin, berarti pemimpin akan selalu memberikan pengarahan pada setiap pekerjaan yang akan dilakukan bawahan dan partisipasi bawahan sangat rendah dalam ikut serta menetukan keputusan.

b. Situasi Dialog; Meskipun pemimpin masih memberikan pengarahan namun ada kecenderungan memberikan kelonggaran pada bawahan/kelompok untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, sehingga partisipasi bawahan tinggi dan kontrol pengambilan keputusan tetap pada pimpinan.

c. Situasi Dukungan; Pemimpin cenderung bersikap aktif dalam memfasilitasi pengambilan keputusan, namun rendah/sedikit dalam memberikan arahan untuk penyelesaian pekerjaan dan bawahan/pengikut seolah-olah yang menentukan pengambilan keputusan.

d. Situasi Pendelegasian; Pemimpin mengajak pada bawahan untuk telibat aktif dalam pengambilan keputusan sehingga tidak nampak secara jelas adanya hubungan atasan dan bawahan, dan pengambilan keputusan-pun didelegasikan pada para pengikut untuk mencapai kata kesepakatan dalam penyelesaian pekerjaan.

Terakhir:

Tipe manakah yang saat ini sedang Anda jalankan dalam memimpin ?

————————————–

Sumber Pustaka:
1. Shaun Tyson & Tony Jackson; The Essence of Organizational behavior; Perilaku Organisasi, Andi, Yogyakarta, 2000.
2. James A.F Stoner, Manajemen, jilid 1 & 2, edisi kedua, Erlangga, Jakarta, 1986.

Posted by: herrybudiman | April 20, 2010

JALAN MENUJU KERAJAAN ALLAH

JALAN MENUJU KERAJAAN ALLAH

Nats Alkitab: Roma 5: 1-8

5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

5:3 Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,

5:4 dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.

5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.

5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar — tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati –.

5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Salam Damai dalam Kasih Tuhan Yesus Kristus

Rasul Paulus menuliskan surat kepada Jemaat di Roma, bahwa sesungguhnya ia berniat mengunjungi mereka untuk memberitakan Injil, namun waktu belum mengijinkan dirinya untuk singgah di kota Roma (Rm.1:13)

1:13 Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu — tetapi hingga kini selalu aku terhalang — agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain.

Meskipun ia belum sempat pergi ke Roma, namun lebih lanjut Rasul Paulus, menyatakan, mengapa Injil itu perlu diberitakan; karena kabar sukacita yang diwartakannya adalah menyangkut kebenaran, bagaimana sikap hidup orang benar yang sesungguhnya: Rm 1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Bagaimana orang benar itu hidup oleh iman ?

Yesus Kristus pernah ditanya dan disapa oleh orang muda kaya yg ingin menanyakan kepastian, bagaimana ia (orang kaya itu) dapat masuk kerajaan Allah:

Mat 19:16 Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?”

19:17 Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.”

19:18 Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,

19:19 hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

19:20 Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?”

19:21 Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

19:22 Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.

19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

19:25 Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?”

19:26 Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.”

Uraian ayat-ayat Firman Tuhan diatas tentang Kerajaan Allah.

Adakah seorang yang sanggup menuruti perintah ALLAH ? Nabikah/Rajakah/Rasulkah/Orang Kayakah/Orang Miskinkah/ Orang Pandaikah/Orang bodohkah?

Maka tak seorangpun sebenarnya yang layak/laik atau berhak masuk kekerajaan Allah (hidup Kekal); (sepertinya arogan)

Yesus mengajarkan bagaimana sikap yang harus dimiliki oleh seseorang untuk dapat masuk kedalan kerajaan kekal.

Menilai pertanyaan diatas, satu contoh tentang ’Orang Kaya’

Seseorang dapat menjadi kaya pastilah orang itu termasuk dalam golongan orang yang pandai, pintar dan cerdik.

dan sebagai orang kaya, tentunya orang itu dapat memelihara perilakunya dengan memanfaatkan kekayaannya, dengan harapan melalui kekayaannya itulah minimal dapat berbuat baik (berderma) kepada sesamanya, bahkan karena merasa kaya maka orang tersebut dapat mengaktualisasikan perbuatannya supaya dipandang baik kepada sesamanya melalui banyak kegiatan yang menyenangkan hati orang lain; karena berbuat baik seperti diatas, bisa juga orang lain menganggap sebagai berbuat benar.

Dan ketaatan yang telah diperbuat orang kaya dengan perilakunya yang mematuhi hukum Taurat, adalah sebagai pandangan yang normal (masuk akal) apabila kelak akan mendapatkan ganjaran, menjadi anggota kerajaan kekal (diselamatkan).

Kenyataannya, yg terjadi tidak demikian:

Yesus menyuruh si orang kaya itu supaya menjual hartanya!

Jual Harta ?;

maka orang muda (yg Kaya raya)  itu menjadi kecewa bahwa usahanya selama ini untuk mematuhi hukum taurat melalui kekayaannya adalah suatu kesia-siaan !

Yesus Kristus tahu persis, apa yang tersimpan di dalam hati manusia kaya itu, sebagaimana tersurat dalam firman-Nya  Lukas  12:34 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Namun demikian karena kasih Allah, maka Allah mau datang menghampiri/menjumpai langsung manusia (kita ini sekalian) untuk mengajarkan kebenaran-Nya; dengan menjadikan diri-Nya serupa dengan manusia dalam pribadi Yesus Kristus.

Allah telah bertindak di luar jangkauan akal pikiran manusia, (kalau perpijak pada akal pikiran manusia, maka penjelmaan diri Allah dalam pribadi Yesus Kristus, pastilah tidak masuk di akal manusia). bahkan akan timbul pertanyaan: ‘untuk apa?’

Mengapa Allah mesti bersusah payah dan mau mendekatkan ke manusia ? Dia merendahkan diri-Nya menjadi Manusia, bukankah Allah bisa/mampu dan cukup bertindak dari Surga saja, maka Allah langsung dapat mengampuni dosa manusia !!;

Ternyata akal manusia harus memahami karya dan kehendak-Nya, ALLAH dari Sorga turun ke bumi, menebus Dosa manusia yang dilakukan di dunia/bumi; jadi pengampunan dilakukan dimana ketidak tepatan sasaran (dosa) terjadi.

Sesudah mengalami kematian dan dikuburkan, maka Yesus Kristus telah bangkit, dan kebangkitannya ternyata tidak hanya berupa Roh, lebih dari itu bahwa Yesus Kristus bangkit dan meninggalkan kubur dengan membawa serta tubuh jasmani yang pernah di kafani oleh para murid-Nya, tubuh itu seketika diubah-NYa , Dia bawa naik ke Surga sebagai tubuh kemuliaan yang tidak dapat binasa, dan tubuh kemuliaan inilah yang harus dikenakan pada setiap manusia yang memperoleh keselamatan kekal.

Sisi lain Yesus Kristus, menjadi pintu Masuk ke Kerajaan Kekal

Dalam Yoh. 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Ada pepatah berbunyi: “banyak jalan menuju ke Roma’; artinya banyak cara (kepercayaan/agama) yang dapat dijalani/ditempuh untuk menuju kesuatu tempat dan dalam menggapai keselamatan-pun orang boleh berusaha dengan kemampuannya sendiri untuk mencari keselamatan itu;

namun semuanya akan berakhir sia-sia; oleh karena apa ?,

jika kita masih diikat oleh hukum taurat, maka hukum itulah yang akan menghakimi diri kita.

ternyata hukum taurat telah melekat disetiap pribadi manusia (entah itu melalui jalur yang percaya Alkitab PL/PB dan diluar Alkitab; karena bagi yg tidak mengenal hukum taurat, maka ia akan binasa  Roma  2:12  Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat;

kenyataan. dan ternyata seorangpun manusia tidak akan mampu untuk memenuhi seluruh aspek Hukum Taurat secara sempurna. (Hukum Taurat dikenalkan langsung oleh  Tuhan Allah dan pernah diberikan pada Musa; sebagai kesepuluh aturan yang dikenal dengan the Ten Commandment (Torah/Taurat);

Bisakah manusia dengan sempurna mematuhi aturan itu ?  Kenyataannya : ’tak seorang pun dapat memenuhi/mentaati 100%  ke sepuluh Firman Tuhan itu)

Ibadah yg telah dilakukan oleh siapapun, baik itu orang kaya, miskin, pandai,pintar, ahli agama/nabi pendahulu Yesus Kristus/rasul dsb; tidak akan bisa sesempurna seperti yg telah dilakukan atau dicontohkan oleh Yesus Kristus sendiri, sewaktu di bumi ini; karena tidak satupun ibadah manusia di atas dunia ini yg benar dan baik 100% pada pandangan Allah.

Tapi Yesus Kristus telah sempurna memenuhi tugas-Nya, menggenapi, memenuhi tuntutan Taurat dan Dialah Raja/Nabi/Imam Agung;  yang dalam kesengsaraan-Nya tetap mendoakan  keselamatan manusia dan mengampuni orang-orang sekalipun itu musuh yang menyalibkan-Nya;

Oleh karena itu supaya ibadah kita menjadi sempurna, maka kita harus menggantungkan/mencontoh/melaksanakan  ibadah kita pada belas kasihan Tuhan Yesus Kristus.

Yesus Kristus, yg telah setia, taat pada firman Allah dan mau mengorbankan nyawa-Nya bagi penebusan dosa kita; sehingga DIA adalah pelaku sempurna (100%, tanpa cacat, cela/kesalahan/dosa sekecil apapun) yang dapat menuruti seluruh Hukum Taurat;

karena kesempurnaan itulah, menjadikan manusia yang percaya kepada Tuhan Yesus tidak akan binasa, disini  Allah memampukan manusia dan mengembalikan kemuliaan manusia untuk kembali menjadi anak-anak ALLAH (sebagai gambar dan rupa Allah).

Orang yang benar dan orang yang baik.

[i]Roma pasal 5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar — tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati –.[/b]

“Orang baik”; Adakah dari manusia ini/orang  yang dianggap baik; oleh karena apa kebaikan dari orang itu, sehingga dia dikatakan orang baik ? apakah karena suka memberi bantuan atau seperti orang muda kaya yang merasa sudah memenuhi tuntutan hukum Taurat ?

Jika melihat orang yg dianggap baik, terlibat dalam suatu konflik, maka banyak orang akan mudah untuk membela pada orang baik itu, karena telah merasa diberi kebaikan, pembelaan ini bisa karena pamrih atau balas jasa; dan menganggap saking baiknya seseorang, maka ada manusia yg mau membela dengan  berkorban/mengorbankan nyawanya demi orang itu; meskipun orang itu belum tentu dipihak yang benar .

Kalau “orang benar”, bagiamana harus dinilai ? dan kebenaran siapa yang harus dibela; supaya setiap orang yang membela orang benar itu juga dibenarkan oleh Tuhan.

Baik dan Benar adalah sesuai standar ALLAH.

Orang baik dan benar dihadapan Allah adalah jika orang itu mampu dan taat pada firman-Nya; dan firman-Nya lah yang menjadikan orang itu hidup dan dapat memandang kehidupannya jauh kedepan; bukan kehidupan duniawi yang harus dipertahankan dengan mati-matian sampai menumpahkan darah, tapi manusia harus mampu dan mau dengan keyakinan diri mewartakan Injil keselamatan, dengan mewartakan melalui penyangkalan diri dan menelusuri jalan kehidupan via dolorosa bahwa hanya ada satu jalan keselamatan menuju kedalam kerajaan Kekal, sebab sebagaimana dosa telah masuk kedunia ini melalui satu orang maka jalan kembali kehadirat-Nya-pun hanya Allah berikan melalui satu nama yang telah menaklukkan kuasa maut di dunia ini yaitu [b]melalui Yesus Kristus sebagai Nabi, Raja, Imam dan Tuhan; maka manusia dianggap Allah sebagai orang yang benar.sebagaimana firman Tuhan:  Filipi  2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!

Kesimpulan:

”Banyak jalan menuju roma, tapi hanya ada satu orang yang berani mengatakan dan sebagai satu-satunya jalan menuju ke Kerajaan ALLAH, yaitu Yesus, sebagai Juruselamat dan Tuhan”

Haleluya.

Pertanyaan renungan:

  1. Mudah atau sukarkah jalan yang harus ditempuh manusia untuk menuju ke kerajaan Kekal ?
  2. Bagimanakah usahamu untuk mendapatkan tiket masuk kedalam kerajaan kekal itu ?
  3. Sudahkah iman-mu layak dinyatakan oleh Allah sebagai orang baik dan benar ?

Posted by: herrybudiman | March 12, 2009

“Nasehat Rajin Belajar, Bekerja dan Beribadah”

“Nasehat Rajin Belajar, Bekerja dan Beribadah”

Bacaan Renungan: Amsal 6: 1-11 (6-11) (Bacaan Pembanding di PB : 2 Tesalonika 3:6-15)

AMSAL

6:1 Hai anakku, jikalau engkau menjadi penanggung sesamamu, dan membuat persetujuan dengan orang lain;

6:2 jikalau engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, tertangkap dalam perkataan mulutmu,

6:3 buatlah begini, hai anakku, dan lepaskanlah dirimu, karena engkau telah jatuh ke dalam genggaman sesamamu: pergilah, berlututlah, dan desaklah sesamamu itu;

6:4 janganlah membiarkan matamu tidur, dan kelopak matamu mengantuk;

6:5 lepaskanlah dirimu seperti kijang dari pada tangkapan, seperti burung dari pada tangan pemikat.

6:6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

6:7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya,

6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

6:9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?

6:10 “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” —

6:11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Prolog:

BAGAIMANA reaksi Saudara membaca teks Alkitab di atas? Mungkin tidak ada atau datar-datar saja sebab tampaknya teks itu terlalu biasa dan simpel, mudah dipahami tanpa harus ditafsir, dan tidak memuat amanat yang sangat memikat perhatian. Namun pertanyaan kepada Saudara-saudara yang menganggap teks itu sangat simpel dan biasa: kapankah Saudara terakhir sekali melihat semut? Lebih spesifik: kapankah Saudara dalam hidup ini memperhatikan sungguh-sungguh perilaku semut? Semut, apalagi kalau sendirian, memang bukan mahluk yang besar, kuat, atau penuh pesona, sehingga selalu mengundang mata kita melihatnya dengan decak kagum. Namun seperti kata Alkitab dan banyak buku semut sebenarnya adalah hewan kecil yang hebat.

Permenungan Firman (penekanan pada Amsal 6: 5- 11)

Analogi Manusia dengan Semut.

(semut sebagai cermin untuk meningkatkan pengajaran kepada Anak dan diri sendiri)

3 (Tiga Hal) yang perlu di uraikan dalam kebaktian:

PERTAMA: RAJIN-RAJINLAH BELAJAR. Apa? Rajin-rajinlah belajar. Sekali lagi: rajin-rajinlah belajar. Saya yakin banyak diantara kita orang tua yang akan tersinggung dan marah besar seandainya anak-anak kita mengatakan kepada kita: Bapak/Ibu, rajin-rajinlah belajar! Bukan hanya kita, bahkan para mahasiswa pun suka marah kalau dinasihati oleh bapak/ibunya: rajin-rajin belajar. Apalagi menyangkut para Pelayan Tuhan (Presbiter);

Renungan kali ini justru mau mengajak kita semua: tua-muda, laki-laki-perempuan, tinggi-rendah, dan kaya-miskin agar mau belajar. Mengapa? Karena kemampuan belajar adalah anugerah Tuhan yang terbesar kepada kita manusia. Tuhan memberikan kemampuan belajar itu sedikit atau secara terbatas kepada hewan seperti beruang, ikan lumba-lumba, gajah atau simpanse. Sebab itulah binatang itu bisa dilatih dan diajari naik sepeda, melompati lingkaran, menghitung bilangan sederhana atau memakai alat. Namun khusus kepada kita manusia Tuhan memberikan kemampuan belajar itu sangat luar biasa, hampir tanpa batas. Kita bisa belajar hampir apa saja, dimana saja dan kapan saja. Belajar dalam pengertian: belajar sebanyak mungkin aspek kehidupan, terutama bagi presbiter adalah belajar tentang Tata Gereja ( Susunan Tata Ibadah, Siapa yang boleh melayani (sumbernya harus jelas (Alkitab), asal usul lembaganya harus jelas (tempat sehari-harinya berperan) dst .

Sebab itu kita harus bersyukur dan sadar bahwa kemalasan dan ketidakmauan belajar sama saja menolak anugerah Tuhan yang sangat khas kepada manusia ini. Kembali ke diri kita. Kemauan dan kemampuan belajar adalah berhubungan erat dengan pengakuan akan kekurangan atau ketidaksempurnaan diri dan sekaligus kebutuhan untuk menambah, membekali dan memperlengkapi diri. Orang yang rajin belajar mengakui dirinya belum sempuna dan cukup pintar dan bijak sehingga memaksa dirinya belajar dan belajar. Itulah sebabnya semakin tambah umur, semakin mapan perekonomian, dan semakin terhormat posisi kita di masyarakat semakin sulit saja kita belajar. Mengapa? Karena ada godaan kita menganggap diri kita sudah cukup dan sempurna. Sebab itu menurut saya mahluk yang paling sulit belajar di dunia ini adalah orang yang merasa sudah pandai atau orang yang merasa bodoh/tidak mampu belajar; kalau org meara pandai lalu tidak mau belajar lagi, maka sesungguhnya orang itu pasti merasa dan bisa melihat kelemahan orang lain (sebaliknya, apakah tidak setiap orang panda akan berlaku/berpikir seperti itu ?)

Saya dan Saudara, agar kembali rajin dan tekun belajar. (Ingat: belajar tidak harus selalu diartikan secara formal dan terstruktur ketat.) . Kita harus belajar lagi tentang banyak hal dan kepada banyak orang (termasuk sesekali kepada semut hitam atau merah). Saya tidak mau memberi kuliah tentang “teori belajar” walau pun menurut saya itu sangat penting bagi gereja. Kita masing-masing lebih tahu apa yang perlu dan harus kita pelajari secara sungguh-sungguh, sukacita dan rajin. Singkatnya saya mau mengatakan kita harus belajar menjadi orang Kristen, kita juga harus belajar menjadi orang moderen, dan kita juga harus belajar menjadi orang Kristen dan moderen serta tinggal di negeri majemuk seperti Indonesia; membaur sehingga bisa menjadi saksi Kristus.

Ada satu kiasam/lukisan hubungan antara Allah dan umatNya yang sangat relevan dengan renungan Minggu ini, yaitu lukisan Guru-Murid. Tuhan adalah Sang Guru dan kita adalah murid (Yoh 13:13-15, Yesaya 50:4). Yesus mengajak kita agar mau belajar kepadaNya (Mat 10:24-25, 11:29). Menurut saya gambaran ini kurang kita kembangkan. Entah kenapa kita lebih suka menghayati diri kita sebagai domba dan Tuhan sebagai gembala, ketimbang menghayati diri sebagai murid dan Tuhan sebagai guru. Lukisan domba itu tentu sah dan baik-baik saja. Kekurangannya hanya satu: domba kurang cerdas dan tidak suka belajar!. Oleh karena itru harus kita ubah: bahwa kita murid dan Gurunya adalah Kristus (Maha Guru yang tidak kehabisan Ilmu dan sebagai murid tidak perlu berpindah mencari Guru Lain)

KEDUA: RAJIN-RAJINLAH BEKERJA! Ya, rajin-rajinlah bekerja. (Catatan: sebenarnya yang rajin bekerja itu bukan hanya semut tetapi semua hewan termasuk burung, tupai, berang-berang). Coba kita amati: perilaku kesehariannya seperti: Burung, Harimau (untuk mendapatkan makanan : harus bekerja). Pesan Alkitab sangat jelas dan selalu memberikan contoh sederhana. Kalau memang sederhana ya sederhana saja. Sebab kadang orang Kristen suka sekali merumit-rumitkan pesan Alkitab sehingga tuntutan etisnya makin samar. Selain itu ada pameo: jika bisa dipersulit untuk apa dipermudah? Sehingga berbelit (seperti benang kusut). Kita perlu sadar bersama, bahwa di negeri kita kerajinan dan kemalasan sering kali tidak berkorelasi langsung dengan kekayaan atau kemiskinan seseorang. Kita tahu betul banyak orang sangat rajin bekerja, bangun pagi-pagi buta bekerja keras seharian sampai senja, namun tetap saja miskin. Sebaliknya ada juga orang yang tidak bekerja keras namun entah bagaimana sangat mudah kaya-raya, bukan saja tidak pernah masuk penjara namun sangat dihormati di gereja dan masyarakat.

Selain itu kita perlu mengingatkan secara pribadi bahwa di negeri dimana sistem dan struktur ekonomi-politik tidak adil sebenarnya sebagian besar orang menjadi miskin bukan karena malas, namun karena sistem dan struktur yang tidak adil itu sendiri. Yang paling benar adalah: orang malas menjadi miskin!

Pesan yang lebih mendalam pada renungan , Jangan menganggap kerja/bekerja keras sebagai hukuman mutlak dari Allah akibat dosa manusia, tetapi panggilan Tuhan kepada manusia, supaya manusia memahami hakekat dirinya diciptakan di dunia ini. Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang bekerja dan suka berkarya. Dia bukan Allah yang duduk-duduk santai, bermalas-malas di singgasanaNya. Yesus mengatakan Bapaku sampai sekarang bekerja dan karena itupun Aku bekerja juga (Yoh 9:4). Kita dipanggil untuk bekerja dan berkarya, bukan hanya demi upah (walaupun itu perlu agar kita tidak harus mencuri dan bahkan dapat menyumbang, memberikan persembahan yang bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan, melebarkan kerjaan Allah), tetapi bukan demi kebanggaan, kebahagiaan dan makna hidup kita sendiri. Sebab sebagian kebanggaan, kebahagiaan dan makna hidup kita dihasilkan oleh pekerjaan dan karya cipta kita. Sebab itulah saya ingin mengajak kita menafsirkan ulang tentang kehidupan Adam dan Hawa di Taman Eden. Menurut saya Adam dan Hawa di Taman Eden bukan hanya berleha-leha dan bermalas-malas, tetapi juga bekerja dan berkarya. Adam dan Hawa mengenal kerja bukanlah sesudah jatuh ke dalam dosa. Tetapi sudah sejak awal diciptakan Allah, bahwa Adam dan Hawa juga harus bekerja (missal: saat menamai hewan) dan orang bekerja keras bukanlah akibat dosa. Tetapi jika berada dalam dosa dan kejahatan, meskipun kerja keras dan karya cipta kita tidak menghasilkan kebahagiaan diri sendiri maupun sesama tetapi justru kesusahan (missal: akhir-akhir ini dikuak masalah KKN, Korupsi yang dilakukan para Petingga/Mantan Petinggi). Itulah permenungan penulis Sang Pengkotbah. Sebab itu dia mengatakan “selagi hidup bekerjalah, sebab setelah mati kita tidak bisa bekerja lagi” (Pengkotbah 9:10); Contoh paling ekstrim tapi benar: lihatlah para pemulung!

KETIGA: RAJIN-RAJINLAH BERIBADAH! Rajin-rajinlah beragama. Dalam hal ini tentu saja saya tidak mengajak Saudara untuk belajar dari semut atau burung atau belalang. Sebab mereka tidak beragama dan tidak tahu berdoa. Terkadang orang Kristen perlu belajar kepada saudara-saudara sepupu dalam cara berdoa (waktu-waktu berdoa), mereka selalu memaksa (sehingga akhirnya dibentuk-membentuk) dirinya bersembahyang lima kali sehari. Sebab kalau di dunia Kerja, banyak orang yang terlalu rajin atau kecanduan bekerja (sehingga lupa beragama, dan lupa juga kepada keluarga). Sebaliknya ada juga orang seperti di gereja Tesalonika terlalu bergairah dan rajin beribadah sehingga lupa bekerja mencari nafkah! . Menurut saya komunitas Kristen-Protestan ditantang untuk memasukkan kembali kerajinan dan disiplin ke dalam spiritualitas kekristenan kita. Sama seperti kita tidak mungkin pintar hanya dengan belajar sehari, tidak mungkin menjadi dewasa dengan dikarbit, demikian pulalah iman dan spiritualitas kita tidak mungkin besar dan kuat tanpa melalui proses pendidikan, pelatihan dan pembentukan yang terus-menerus. Sebab itu jangan anggap enteng dengan soal kerajinan beribadah.

Suatu survai menghasilkan: Mungkin ada orang yang berkilah mengatakan dalam kekristenan (apalagi protestantisme) kita bebas bersembahyang atau berdoa kapan saja dan dimana, tidak perlu terikat kepada waktu tertentu. Saya mau mengatakan: bohong! Orang yang mengatakan bisa berdoa kapan saja dan dimana saja biasanya justru TIDAK pernah berdoa kapan saja dan dimana saja; malahan mungkin kerjaan kesehariannya hanya nongkrong sana-sini ngobrol yang tidak bermakna bahkan cenderung membicarakan kebiasaan/kelemahan orang lain yang dianggap menyimpang dari kehidupan kekristenan (padahal dengan membicarakan keburukan/kelemahan orang lain, justru akan berbalik pada dirinya, tidak mencerminkan orang Kristen yang baik; mau belajar dan mampu bekerja serta mengasihi sesama).

Tuhan Senantiasa Memberkati Kita. AMIN.

By: Drs. H. Budiman Damanik MA.

Posted by: herrybudiman | May 9, 2008

PENDENGAR ATAU PELAKU FIRMAN TUHAN

PENDENGAR DAN PELAKU FIRMAN TUHAN

Lukas 8 : 19 – 21

8:19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.

8:20 Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.”

8:21 Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Prolog:

Hubungan yang harmonis dimulai dari kumpulan yang terkecil (keluarga).

Pendalaman:

1. 8:19 Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. (Apa yang terjadi = Yesus adalah simbul/ikon bagi org2 baik yahudi/non; terlebih Yesus sebagai Org yang ringan dalam memberikan pertolongan/jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi org2 tertentu dari gol menengah keatas. Banyak hal yang terjadi: masalah social & ekonomi dan agama. Maka pada saat itu karena sebagai tokoh, Yesus selalu dikerumuni banyak org.2 shg Ibu (Maria) & saudara2-Nya tidak dapat mendekati DIA.

2. 8:20 Orang memberitahukan kepada-Nya: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” (salah satu cara spy bisa menyeruak kerumunan tentunya dengan memberitahukan identitas, siapa gerangan yang dating (psikologi keluarga/ kedekatan hubungan darah) – ikatan emosional (primordial).

3. 8:21 Tetapi Ia menjawab mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” = Terjadi pembalikan fakta (Dia/Yesus menjelaskan kpd khalayak ttg tingkat kepentingan arti hubungan antara Pencipta vs ciptaan dan ciptaan vs ciptaan (Vertikal dan Horizontal).

Apa yang dimaksud dengan Firman Allah: (ALKITAB – kah ?)

Apa yang dimaksud dengan Mendengar dan melakukan Firman Allah (Bagian mana dari ALKITAB, keseluruhankah ?) Intinya ada hukum

Posted by: herrybudiman | May 8, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories