Posted by: herrybudiman | March 12, 2009

“Nasehat Rajin Belajar, Bekerja dan Beribadah”

“Nasehat Rajin Belajar, Bekerja dan Beribadah”

Bacaan Renungan: Amsal 6: 1-11 (6-11) (Bacaan Pembanding di PB : 2 Tesalonika 3:6-15)

AMSAL

6:1 Hai anakku, jikalau engkau menjadi penanggung sesamamu, dan membuat persetujuan dengan orang lain;

6:2 jikalau engkau terjerat dalam perkataan mulutmu, tertangkap dalam perkataan mulutmu,

6:3 buatlah begini, hai anakku, dan lepaskanlah dirimu, karena engkau telah jatuh ke dalam genggaman sesamamu: pergilah, berlututlah, dan desaklah sesamamu itu;

6:4 janganlah membiarkan matamu tidur, dan kelopak matamu mengantuk;

6:5 lepaskanlah dirimu seperti kijang dari pada tangkapan, seperti burung dari pada tangan pemikat.

6:6 Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak:

6:7 biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya,

6:8 ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.

6:9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?

6:10 “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” —

6:11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Prolog:

BAGAIMANA reaksi Saudara membaca teks Alkitab di atas? Mungkin tidak ada atau datar-datar saja sebab tampaknya teks itu terlalu biasa dan simpel, mudah dipahami tanpa harus ditafsir, dan tidak memuat amanat yang sangat memikat perhatian. Namun pertanyaan kepada Saudara-saudara yang menganggap teks itu sangat simpel dan biasa: kapankah Saudara terakhir sekali melihat semut? Lebih spesifik: kapankah Saudara dalam hidup ini memperhatikan sungguh-sungguh perilaku semut? Semut, apalagi kalau sendirian, memang bukan mahluk yang besar, kuat, atau penuh pesona, sehingga selalu mengundang mata kita melihatnya dengan decak kagum. Namun seperti kata Alkitab dan banyak buku semut sebenarnya adalah hewan kecil yang hebat.

Permenungan Firman (penekanan pada Amsal 6: 5- 11)

Analogi Manusia dengan Semut.

(semut sebagai cermin untuk meningkatkan pengajaran kepada Anak dan diri sendiri)

3 (Tiga Hal) yang perlu di uraikan dalam kebaktian:

PERTAMA: RAJIN-RAJINLAH BELAJAR. Apa? Rajin-rajinlah belajar. Sekali lagi: rajin-rajinlah belajar. Saya yakin banyak diantara kita orang tua yang akan tersinggung dan marah besar seandainya anak-anak kita mengatakan kepada kita: Bapak/Ibu, rajin-rajinlah belajar! Bukan hanya kita, bahkan para mahasiswa pun suka marah kalau dinasihati oleh bapak/ibunya: rajin-rajin belajar. Apalagi menyangkut para Pelayan Tuhan (Presbiter);

Renungan kali ini justru mau mengajak kita semua: tua-muda, laki-laki-perempuan, tinggi-rendah, dan kaya-miskin agar mau belajar. Mengapa? Karena kemampuan belajar adalah anugerah Tuhan yang terbesar kepada kita manusia. Tuhan memberikan kemampuan belajar itu sedikit atau secara terbatas kepada hewan seperti beruang, ikan lumba-lumba, gajah atau simpanse. Sebab itulah binatang itu bisa dilatih dan diajari naik sepeda, melompati lingkaran, menghitung bilangan sederhana atau memakai alat. Namun khusus kepada kita manusia Tuhan memberikan kemampuan belajar itu sangat luar biasa, hampir tanpa batas. Kita bisa belajar hampir apa saja, dimana saja dan kapan saja. Belajar dalam pengertian: belajar sebanyak mungkin aspek kehidupan, terutama bagi presbiter adalah belajar tentang Tata Gereja ( Susunan Tata Ibadah, Siapa yang boleh melayani (sumbernya harus jelas (Alkitab), asal usul lembaganya harus jelas (tempat sehari-harinya berperan) dst .

Sebab itu kita harus bersyukur dan sadar bahwa kemalasan dan ketidakmauan belajar sama saja menolak anugerah Tuhan yang sangat khas kepada manusia ini. Kembali ke diri kita. Kemauan dan kemampuan belajar adalah berhubungan erat dengan pengakuan akan kekurangan atau ketidaksempurnaan diri dan sekaligus kebutuhan untuk menambah, membekali dan memperlengkapi diri. Orang yang rajin belajar mengakui dirinya belum sempuna dan cukup pintar dan bijak sehingga memaksa dirinya belajar dan belajar. Itulah sebabnya semakin tambah umur, semakin mapan perekonomian, dan semakin terhormat posisi kita di masyarakat semakin sulit saja kita belajar. Mengapa? Karena ada godaan kita menganggap diri kita sudah cukup dan sempurna. Sebab itu menurut saya mahluk yang paling sulit belajar di dunia ini adalah orang yang merasa sudah pandai atau orang yang merasa bodoh/tidak mampu belajar; kalau org meara pandai lalu tidak mau belajar lagi, maka sesungguhnya orang itu pasti merasa dan bisa melihat kelemahan orang lain (sebaliknya, apakah tidak setiap orang panda akan berlaku/berpikir seperti itu ?)

Saya dan Saudara, agar kembali rajin dan tekun belajar. (Ingat: belajar tidak harus selalu diartikan secara formal dan terstruktur ketat.) . Kita harus belajar lagi tentang banyak hal dan kepada banyak orang (termasuk sesekali kepada semut hitam atau merah). Saya tidak mau memberi kuliah tentang “teori belajar” walau pun menurut saya itu sangat penting bagi gereja. Kita masing-masing lebih tahu apa yang perlu dan harus kita pelajari secara sungguh-sungguh, sukacita dan rajin. Singkatnya saya mau mengatakan kita harus belajar menjadi orang Kristen, kita juga harus belajar menjadi orang moderen, dan kita juga harus belajar menjadi orang Kristen dan moderen serta tinggal di negeri majemuk seperti Indonesia; membaur sehingga bisa menjadi saksi Kristus.

Ada satu kiasam/lukisan hubungan antara Allah dan umatNya yang sangat relevan dengan renungan Minggu ini, yaitu lukisan Guru-Murid. Tuhan adalah Sang Guru dan kita adalah murid (Yoh 13:13-15, Yesaya 50:4). Yesus mengajak kita agar mau belajar kepadaNya (Mat 10:24-25, 11:29). Menurut saya gambaran ini kurang kita kembangkan. Entah kenapa kita lebih suka menghayati diri kita sebagai domba dan Tuhan sebagai gembala, ketimbang menghayati diri sebagai murid dan Tuhan sebagai guru. Lukisan domba itu tentu sah dan baik-baik saja. Kekurangannya hanya satu: domba kurang cerdas dan tidak suka belajar!. Oleh karena itru harus kita ubah: bahwa kita murid dan Gurunya adalah Kristus (Maha Guru yang tidak kehabisan Ilmu dan sebagai murid tidak perlu berpindah mencari Guru Lain)

KEDUA: RAJIN-RAJINLAH BEKERJA! Ya, rajin-rajinlah bekerja. (Catatan: sebenarnya yang rajin bekerja itu bukan hanya semut tetapi semua hewan termasuk burung, tupai, berang-berang). Coba kita amati: perilaku kesehariannya seperti: Burung, Harimau (untuk mendapatkan makanan : harus bekerja). Pesan Alkitab sangat jelas dan selalu memberikan contoh sederhana. Kalau memang sederhana ya sederhana saja. Sebab kadang orang Kristen suka sekali merumit-rumitkan pesan Alkitab sehingga tuntutan etisnya makin samar. Selain itu ada pameo: jika bisa dipersulit untuk apa dipermudah? Sehingga berbelit (seperti benang kusut). Kita perlu sadar bersama, bahwa di negeri kita kerajinan dan kemalasan sering kali tidak berkorelasi langsung dengan kekayaan atau kemiskinan seseorang. Kita tahu betul banyak orang sangat rajin bekerja, bangun pagi-pagi buta bekerja keras seharian sampai senja, namun tetap saja miskin. Sebaliknya ada juga orang yang tidak bekerja keras namun entah bagaimana sangat mudah kaya-raya, bukan saja tidak pernah masuk penjara namun sangat dihormati di gereja dan masyarakat.

Selain itu kita perlu mengingatkan secara pribadi bahwa di negeri dimana sistem dan struktur ekonomi-politik tidak adil sebenarnya sebagian besar orang menjadi miskin bukan karena malas, namun karena sistem dan struktur yang tidak adil itu sendiri. Yang paling benar adalah: orang malas menjadi miskin!

Pesan yang lebih mendalam pada renungan , Jangan menganggap kerja/bekerja keras sebagai hukuman mutlak dari Allah akibat dosa manusia, tetapi panggilan Tuhan kepada manusia, supaya manusia memahami hakekat dirinya diciptakan di dunia ini. Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang bekerja dan suka berkarya. Dia bukan Allah yang duduk-duduk santai, bermalas-malas di singgasanaNya. Yesus mengatakan Bapaku sampai sekarang bekerja dan karena itupun Aku bekerja juga (Yoh 9:4). Kita dipanggil untuk bekerja dan berkarya, bukan hanya demi upah (walaupun itu perlu agar kita tidak harus mencuri dan bahkan dapat menyumbang, memberikan persembahan yang bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan, melebarkan kerjaan Allah), tetapi bukan demi kebanggaan, kebahagiaan dan makna hidup kita sendiri. Sebab sebagian kebanggaan, kebahagiaan dan makna hidup kita dihasilkan oleh pekerjaan dan karya cipta kita. Sebab itulah saya ingin mengajak kita menafsirkan ulang tentang kehidupan Adam dan Hawa di Taman Eden. Menurut saya Adam dan Hawa di Taman Eden bukan hanya berleha-leha dan bermalas-malas, tetapi juga bekerja dan berkarya. Adam dan Hawa mengenal kerja bukanlah sesudah jatuh ke dalam dosa. Tetapi sudah sejak awal diciptakan Allah, bahwa Adam dan Hawa juga harus bekerja (missal: saat menamai hewan) dan orang bekerja keras bukanlah akibat dosa. Tetapi jika berada dalam dosa dan kejahatan, meskipun kerja keras dan karya cipta kita tidak menghasilkan kebahagiaan diri sendiri maupun sesama tetapi justru kesusahan (missal: akhir-akhir ini dikuak masalah KKN, Korupsi yang dilakukan para Petingga/Mantan Petinggi). Itulah permenungan penulis Sang Pengkotbah. Sebab itu dia mengatakan “selagi hidup bekerjalah, sebab setelah mati kita tidak bisa bekerja lagi” (Pengkotbah 9:10); Contoh paling ekstrim tapi benar: lihatlah para pemulung!

KETIGA: RAJIN-RAJINLAH BERIBADAH! Rajin-rajinlah beragama. Dalam hal ini tentu saja saya tidak mengajak Saudara untuk belajar dari semut atau burung atau belalang. Sebab mereka tidak beragama dan tidak tahu berdoa. Terkadang orang Kristen perlu belajar kepada saudara-saudara sepupu dalam cara berdoa (waktu-waktu berdoa), mereka selalu memaksa (sehingga akhirnya dibentuk-membentuk) dirinya bersembahyang lima kali sehari. Sebab kalau di dunia Kerja, banyak orang yang terlalu rajin atau kecanduan bekerja (sehingga lupa beragama, dan lupa juga kepada keluarga). Sebaliknya ada juga orang seperti di gereja Tesalonika terlalu bergairah dan rajin beribadah sehingga lupa bekerja mencari nafkah! . Menurut saya komunitas Kristen-Protestan ditantang untuk memasukkan kembali kerajinan dan disiplin ke dalam spiritualitas kekristenan kita. Sama seperti kita tidak mungkin pintar hanya dengan belajar sehari, tidak mungkin menjadi dewasa dengan dikarbit, demikian pulalah iman dan spiritualitas kita tidak mungkin besar dan kuat tanpa melalui proses pendidikan, pelatihan dan pembentukan yang terus-menerus. Sebab itu jangan anggap enteng dengan soal kerajinan beribadah.

Suatu survai menghasilkan: Mungkin ada orang yang berkilah mengatakan dalam kekristenan (apalagi protestantisme) kita bebas bersembahyang atau berdoa kapan saja dan dimana, tidak perlu terikat kepada waktu tertentu. Saya mau mengatakan: bohong! Orang yang mengatakan bisa berdoa kapan saja dan dimana saja biasanya justru TIDAK pernah berdoa kapan saja dan dimana saja; malahan mungkin kerjaan kesehariannya hanya nongkrong sana-sini ngobrol yang tidak bermakna bahkan cenderung membicarakan kebiasaan/kelemahan orang lain yang dianggap menyimpang dari kehidupan kekristenan (padahal dengan membicarakan keburukan/kelemahan orang lain, justru akan berbalik pada dirinya, tidak mencerminkan orang Kristen yang baik; mau belajar dan mampu bekerja serta mengasihi sesama).

Tuhan Senantiasa Memberkati Kita. AMIN.

By: Drs. H. Budiman Damanik MA.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: