Posted by: herrybudiman | April 29, 2010

JADIKAN TUHAN PEMIMPINMU

JADIKAN TUHAN PEMIMPINMU
Mikha 6 : 1-8
6:1 Baiklah dengar firman yang diucapkan TUHAN: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu!
6:2 Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan TUHAN, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab TUHAN mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia beperkara dengan Israel.
6:3 “Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku!
6:4 Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu.
6:5 Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan oleh Balak, raja Moab, dan apa yang dijawab kepadanya oleh Bileam bin Beor dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari TUHAN.”
6:6 “Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?
6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”
6:8 “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Syalom,

Mikha adalah kependekan dari Mikhayehu, yang berarti “Siapakah seperti Yahweh?” (YHWH).
Nabi Mikha bernubuat pada masa pemerintahan Yotam, Ahas dan Hizkia dari Yehuda. Nabi Mikha hidup sejaman dengan Nabi Yesaya, tetapi Yesaya lebih tua dari Mikha. Nabi Yesaya bekerja lebih dahulu yaitu sejak masa pemerintahan Raja Uria.
Situasi yang dihadapi oleh kedua Nabi ini waktu bernubuat sama. Suatu kemungkinan besar kedua nabi ini sering berkomunikasi atau membuat suatu pertemuan dari hati ke hati, sebab pada kedua tulisan-tulisan kedua nabi ini terdapat persamaan tentang perasaan-perasaan, ucapan-ucapan dan keterangan/ungkapan yang ditulisnya.
Sesuai latar belakang pendidikannya, Nabi Yesaya bertugas dikalangan Istana dan pemerintahan di Yerusalem sedangkan nabi Mikha berasal dari kalangan petani, ia bertugas di kalangan masyarakat biasa.
Meskipun nabi Mikha ada di masyarakat biasa tapi ia mengetahui situasi yang sedang berkembang di pemerintahan dan diantara pemimpin agama di Israel.
Sungguhpun di masa pemerintahan Yotam, Yotam telah berkuasa sebagai pemimpin dan pemerintahannya melakukan apa yang benar di mata Tuhan (telah sesuai dengan kehendak Tuihan), tetapi bukit-bukit pengorbanan pada masa itu sebagai tempat untuk mengorbankan sesuatu yang ditujukan bukan kepada Tuhan melainkan kepada dewa-dewa atau berhala tidak dijauhkan / atau dihancurkan. Bahwa bangsa Israel masih mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan itu (2 Raja-2 15:34-35).
Sesudah Yotam, kemudian Ahas memerintah dengan kekuasaan yang dipunyainya tidak melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Bahkan anaknya sendiri dipersembahkan sebagai korban dalam api (2 Raja-2 16: 2-3), sehingga dapat dipahami dari kedua pemerintahan itu telah terjadi ketidak adilan, korupsi, suap, pembunuhan keji dan penindasan-2 kepada rakyat sangatlah merajalela di Yehuda.

Nabi Mikha mengutuk para pemimpin Yehuda yang korup, nabi-nabi palsu (ternyata pada waktu itupun sudah ada nabi-nabi palsu), iman-iman fasik (iman yang munafik = secara lahiriah menampakkan kesalehannya tapi secara batiniah sangatlah kejam terhadap sesama untuk mengekploatasi manusia lain demi kepentingan diri atau kelompoknya), atau pedagang-pedagangpun berlaku tidak jujur dan hakim-hakim yang harusnya menegakkan kebenaranpun lebih senang dengan suap dan korupsi.

Nabi Mikha berkhotbah menentang kejahatan (ketidak adilan, penindasan terhadap para petani atau penduduk desa, keserakahan, kekikiran, kebejatan moral dan penyembahan berhala). Nabi Mikha juga mengingatkan akan akibat yang ditimbulkan yang sangat berat jikalau umat dan para pemimpin mereka terus menerus melakukan kejahatan.

Pelayanan yang dilakukan baik oleh nabi Yesaya maupun Nabi Mikha sangat berperan dalam melakukan pembaruan yang dilakukan oleh Raja Hizkia dan Hizkia melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan tepat seperti yang dilakukan Daud bapa leluhurnya. karena pada masa itu, pada awal masa Raja Hizkia, penduduk bahkan para imam israel masih melakukan ritual membakar korban bagi patung ular, yang pada zaman itu disebut Nehuztan ( II Raja-2 18:3,4); tapi pada masa kejayaan Raja Hizkia. Raja Hizkia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan, dan meremukkan tugu-tugu berhala dan menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat semasa zaman nabi Musa

Pasal 6 ayat 1 & 2, Tuhan menegur Israel sebagai umat-Nya, karena keadaan kehidupan mereka pada masa itu penuh diwarnai dengan penyembahan berhala dan ketidak adilan. Pada masa itu di mata Tuhan seakan-akan tidak ada lagi yang mau mendengar suara Tuhan. Oleh karena itu Tuhan melalui nabi Mikha melancarkan pengaduan di depan gunung-gunung dan bukit-bukit supaya mendengar suara Tuhan. Tuhan menginginkan supaya Israel sebagai umat-Nya mau mendengar suara Tuhan, sebab ia mengasihi umat pilihan-Nya itu. Sungguhpun mereka telah memberontak terhadap Tuhan Allah Israel ( pada masa itu bangsa Israel menyebut-Nya sebagai Yahweh (YHWH). “Umatku apakah yang telah Kulakukan kepadamu?, dengan apakah telah kulelahkan kamu ?”, ini adalah suatu pertanyaan sekaligus pernyataan sebagai teguran yang keras dari Tuhan Allah kepada umat-Nya.
Adakah sesuatu yg salah dilakukan Tuhan semenjak Tuhan menuntun umat Israel keluar dari tanah Mesir, dengan mengutus Musa hamba-Nya itu ?,
Ternyata pada saat Balak menginginkan Bileam mengutuk Israel, Tuhan tetap memberikan/ mengucapkan berkat. Dan semua yang telah Tuhan perbuat adalah untuk keselamatan Israel. Dalam hal ini Tuhan menginginkan umat-Nya mengakui perbuatan-perbuatan keadilan Tuhan.

Jika kita memperhatikan isi pasal 6 ini , Firman Tuhan mengajarkan kepada umat manusia suatu “NASIHAT SUPAYA BERTOBAT”, dan mau menjalani kehidupan menyerahkan diri sepenuhnya dalam tuntunan bimbingan dan pertolongan Tuhan; sehingga akal budi manusia dibentuk dan dipimpin dalam berfikir serta bertindak dalam kehendak-Nya .

Dalam kehidupan saat ini lalu apa yang telah terjadi diantara kita sebagai umat Kristus, saya sebut saudara sekalian adalah umat Kristus, bukan Kristen (karena ada sementara orang yang percaya terhadap Alkitab (Bible/PL & PB), tapi tidak mau mangakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya, tapi orang-orang ini senang mendompleng pada jati diri sebagai umat ‘kristen’.

Keadaan saat ini yang hampir sama dengan situasi dan kondisi zaman bangsa israel dahulu dan pertanyaan yang sama dapat disampaikan kepada kita semuanya: “Umatku apakah yang telah Kulakukan kepadamu?, dengan apakah telah kulelahkan kamu ?” (Mikha 6 : 3), pertanyaan ini berlaku juga hingga saat ini kepada orang yang percaya yang telah atau tengah berpaling dari-Nya atau yang tidak setia atau berlaku munafik dan tidak melakukan kehendak-Nya atau setengah hati mengikuti kehendak Tuhan ?. dan kita masing-masing pun dihadapkan dengan situasi dan pernyataan Tuhan yang telah menegur itu.

Apabila kita hidup dengan cara-cara duniawi yaitu dengan melupakan keadilan,, tidak jujur, melakukan ketidak benaran / hidup memanipulasi diri, tidak berperilaku rendah hati dan tidak mau atau enggan bertobat meskipun merasa bersalah karena kalau bertobat menjadi malu ( bertobat berarti mengakui perbuatannya tidak hanya dihadapan Tuhan saja, tapi juga di depan sesama); bertobat memiliki konsekuensi mengakui bahwa diri pribadi sebagai manusia itu telah jatuh dalam kubangan dosa atau ketidak berdayaan manusia untuk melawan kuasa maut.

Sebagai warga gereja seringkali saya dan saudara-saudara sekalian berkelakuan seperti umat israel (secara sadar maupun tanpa menyadari), seakan-akan dengan melakukan upacara religius keagamaan (ritual), kebaktian-kebaktian baik seperti pada hari minggu, memberikan persembahan syukur (perpuluhan dll), maka menganggap sudah segalanya dan sudah cukup bagi Tuhan, terlebih lagi ada sebagian dari kita yang enggan beribadah atau beribadah hanya cukup dihari raya keagamaan tertentu seperti Paskah atau Natal, di kebaktian minggu saja malas hadir. Tapi merasa sudah cukup berbuat untuk Tuhan, padahal setelah usai kita melakukan kegiatan ritual-ritual tersebut, secara sadar kita kembali ingin menentukan/mengatur ritme kehidupan kita, dan kembali kidup seperti kebiasaan dunia ini; melupakan Tuhan dalam setiap merencanakan aktivitas atau memecahkan permasalahan hidup; kembali melakukan ketidak adilan, serakah, korupsi, tidak jujur dan sebagainya. sehingga segala firman Tuhan hanya ada dalam ibadah rutin seminggu sekali,, Firman hanya menjadi pajangan dinding rumah atau Firman Tuhan, dinomor duakan atau bahkan tidak diingat sekalipun pada saat kita usai beribadah ruitn, kembali kelingkungan masyarakat dan kerja.

Apakah yang sebenarnya diinginkan oleh Tuhan Yesus dari saudara dan saya, sehingga ia rela mengorbankan diri-Nya di kayu salib ? apa yang diajarkan-Nya dan apa tujuan pengajaran-Nya kepada kita ?
Tuhan Yesus Kristus jelas menginginkan agar manusia diselamatkan dari dosa/maut kekal: oleh arena itu ada tertulis.“Karena begitu besar kasil Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh 3:16). Yesus sudah datang ke dunia, sudah menjadi manusia mengalami penganiayaan, penghinaan bahkan fitnahan sampai mati di kayu salib dan bangkit untuk mengalahkan kuasa maut; saat ini Ia datang kembali dan diam di hati manusia; sebagai Roh Kudus serta bekerja/berkarya di tengah kehidupan umat manusia yang menerima-Nya.

Dahulu selama keberadaanya secara fisik di dunia, Ia telah mengajarkan dan memberikan contoh–contoh bagaimana seharusnya manusia berperilaku dalam kehidupan di dunia ini supaya berkenan kepada Allah Bapa di surga; dan pada akhirnya manusia dapat kembali kehadapan tahta Allah untuk menikmati hidup kekal. Apakah kita yang sudah diselamatkan oleh Yesus Kristus, sudah hidup didalam Dia ?, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (I Yoh 2:6).

Yesus telah hidup dengan merendahkan diri-Nya dan bersedia mati kemudian bangkit untuk kita atau untuk manusia, Ia sudah menolong orang yang menderita atau miskin, menyembuhkan orang sakit, merangkul yang disisihkan (kaum papa) dan menegur yang salah, para Ahli Fikir, kaum cerdik pandai (Farisi, Saduki atau Ahli Taurat). Yesus juga memberikan pengharapan kehidupan kekal, menguatkan iman dan mengajarkan yang baik agar orang bartobat. Yesus sudah mengasihi kita agar kita mengasihi ALLAH dan manusia . dan pada akhirnya Tuhan juga memberikan berkat kepada kita: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik, dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu, selain berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan Allahmu?” (Mikha 6 : 8).

Haleluya.

amien

Pertanyaan renungan:
1. Sebagai orang percaya dan Gereja, bagaimana kita berani menegakkan kebenaran sesuai ajaran Tuhan Yesus Kristus ?
2. Apakah ukuran suatu perbuatan yang baik dan benar dimata Tuhan untuk mewujudkan damai di bumi ?
3. Pernahkah engkau merasakan adanya teguran-teguran dari Tuhan dan bagaimana engkau merespon teguran itu, supaya nama Tuhan tetap dimuliakan dan dipuji ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: