Posted by: herrybudiman | May 6, 2010

Dogma Manusia

Dogma Manusia

1. Doktrin Manusia

Pentingnya Doktrin manusia adalah untuk mengetahui eksistensi atau keberadaan manusia dalam arti sebagai mahluk yang ada atau hadir dimuka bumi ini.
Bahwa untuk memahami manusia dalam multi aspek yang cenderung unik dan mandiri, berbeda satu dengan lainnya meskipun masing-masing dianggap memiliki satu sifat dasar atau nilai yang sama yaitu kabaikan. Namun digerogoti oleh pemahaman yang melunturkan sifat personalitas, yang mana pemahaman yang menggerogoti sifat dasar manusia ini dapatlah diantaranya disebutkan sebagai “factor-faktor berikut: supremasi teknologi yang terus meningkat, tumbuhnya birokrasi, meningkatnya metode-metode produksi masal, dampak media masa yang semakin besar”, dan berbagai aktivitas yang cenderung manipulatif seperti untuk menggantikan penerusan generasi yang lazim dalam perkawinan namun karena ketidak mampuan berproduksi secara alami, maka dilakukan inseminasi buatan, atau bayi tabung, sehingga mempengaruhi pola pikir tentang martabat manusia.
Meskipun telah melibatkan para filsuf, sosiolog, psikolog, psikiater, pakar etika, aktivis social, yang masing-masing mencoba dengan keahliannya ingin mengungkapkan keberadaan manusia namun kenyataan yang didapat belumlah memadai memuaskan hasrat yang senyatanya dalam .menjawab apakah manusia itu.
Ada yang mencoba melihat manusia ditinjau dalam aspek/segi antropologi:

a. antropologi idealistic; yang menguraikan manusia pada dasarnya adalah roh dan tubuh fisiknya merupakan hal yang asing bagi nature sejatinya. Pandangan yang diungkapkan oleh Plato, dengan inti pandangan filsafatnya adalah roh memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari tubuh badani dan menyetujui pandangan kekekalan jiwa tetapi menyangkal kebangkitan tubuh, antropologi ini cenderung menekankan pada pengertian “jiwa” atau “rasio” seseorang dan menyangkal keberadaan struktur materinya.

b. Antropologi materialistic, mengungkapkan keterbalikan dari pandangan idealistic, yang menganggap bahwa manusia adalah sejatinya hanyalah terdiri dari tubuh sebagai unsur berbagai materi yang nyata kelihatan sedangkan kehidupan mental, emosional bahkan roh hanya merupakan produk sampingan dari struktur materialnya; sehingga secara individu manusia tidak mempunyai tanggung jawab atas kejahatan yang ada namun masyarakatlah yang harus bertanggung jawab, dan yang ingin dicapai adalah bukanlah keselamatan individu namun keadaan masyarakat yang sempurna dalam satu integrasi sebagi sekumpulan orang yang mendiami muka bumi ini. Esensi dari antropologi ini menekankan kemutlakan sisi fisik manusia dan menyangkal keberadaan sisi “mental” atau “spiritual”.
Dan sebagai manusia yang pada hakekatnya percaya bahwa keberadaan manusia itu ada oleh karena ada yang menciptakan atau membuatnya yang dianggap sebagai penguasa tertinggi yang tidak dapat diselami oleh akal pikiran manusia maka, antropologi diatas dapat dianggap sebagai antropologi yang cacat.

Sedangkan pandangan manusia dilihat dari sudut pandangan Kristen sebagai antropologi Kristen hendak mengungkapkan tentang keberadaan manusia sebagai makluk yang diciptakan oleh suatu kekuatan super natural yang disebut Allah, sehingga dapat mengungkapkan akan kebenaran bahwa manusia dijadikan menurut gambar Allah, dan ini mengarahkan pemikiran manusia kepada suatu pemahaman tentang manusia dan Allah. Dimana manusia dipahami sebagai suatu pribadi tertentu/khusus yang sengaja diciptakan oleh Allah.

2. Pandangan filsafat dunia pada umumnya dengan pandangan alkitabiah tentang manusia

Perbedaan yang paling esensi antara Filasafat dunia dengan Alkitabiah tentang manusia, yaitu secara prinsip filsafat dunia menganggap bahwa Allah itu tidak ada (Ateis/Skeptis), sehingga sentralnya kehidupan dibumi ini ada pada akal/pikiran manusia, jika manusia tidak berfikir maka dunia ini dianggapnya tidak ada, jika manusia ini tidak merasakan adanya persinggungan dengan dunia ini, maka dunia ini adalah semu; sehingga apabila manusia mati ya- dianggap sebagai kesudahan kehidupan atau dalam arti lain, sesudah kematian tidak ada kehidupan lagi dalam bentuk apapun, karena anggapan para filsufnya bahwa sesuatu yang terjadi harus dapat dibuktikan, dan apabila tidak dapat atau ada bukti yang dianggap cukup, maka itu disebut khayali atau omong kosong; lebih jauh lagi ada yang memnggap bahwa agama dengan alkitabnya adalah candu masyarakat.

2. Pandangan Plato dan Aristoteles tentang manusia

Filsuf Plato memandang dunia yang kelihatan oleh mata kita dan yang dapat disentuh dengan tubuh kita di dalam realita sebenarnya hanyalah sebuah dunia bayang-bayang. Dunia ini merupakan suatu tiruan dunia kekal dari Bentuk-bentuk yang bersifat rohani (spiritual) yang dapat dicapai oleh jiwa yang murni melalui perenungan falsafih.; berdasarkan pandangan tersebut dapatlah diuraikan bahwa Plato memandang keberadaan manusia adalah juga sebagai suatu tiruan atau bayang-bayang dari keberadaan manusia secara utuh yang dapat mencapai kesempurnaan apabila roh atau spiritual manusia menjadi utuh kembali.

Filsuf Aristoteles memandang dunia ini keberadaannya oleh karena adanya satu Kausa Pertama (Penyebab yang Utama) yakni penggerak sesuatu yang tidak digerakkan (Unmoved Mover), dimana penggerak ini terlebih dahulu memulai membentuk atau menciptakan namun kemudian meninggalkannya sehingga bagaikan sebuah mesin otomatis yang bergerak sendiri.

3. Aajaran alkitabiah tentang manusia

Ajaran pokok alkitabiah tentang manusia adalah:
Manusia dibentuk/diciptakan oleh Allah adalah segambar dan serupa dengan Allah; hal ini ditunjukkan pada Kitab Kejadian 1: 26 – 28, berbunyi: (26) Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (27) Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. (28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-bururng di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”
Dari firman/kitab Kejadian tersebut, ada hal yang perlu mendapatkan perhatian kita, bahwa pada waktu Allah menciptakan/membentuk manusia, maka hendak dinyatakan-Nya bahwa manusia memiliki kedudukan yang istimewa atau lebih tinggi derajatnya dari segala ciptaan-Nya yang lain, sehingga manusia diberi olehNya suatu kewenangan atau kuasa agar dapat mengelola keberadaan bumi dengan segala isinya (mahluk lain/binatang), yang mengidentikan bahwa ada kedudukan khusus yang diberikan oleh Allah kepada manusia ini, sehingga oleh karena adanya mandat ini manusia digambarkan memiliki suatu ciri khusus atau karakter khusus sebagai penguasa; dan hal ini tentunya dapat diartikan sebagai bahwa Allah memberikan hak-hak tertentu kepada manusia untuk mengelola bumi dan segala isinya namun juga meminta pertanggung jawaban akan pengelolaan yang telah dilakukan manusia itu agar berlangsung sesuai dengan kehendakNya, meskipun kehendak Allah dinyatakan belakangan setelah manusia jatuh di dalam pencobaan, menjadi manusia berdosa dihadapan Allah; sehingga manusia yang serupa dan segambar dengan Allah, dikutuk oleh-Nya, menjadikan manusia dalam mengelola bumi ini penuh dengan kesukaran-kesukaran, menghadapi kendala sehingga gambar atau rupa yang dimiliki manusia menjadi rusak atau hancur atau menjadi tidak jelas bentuknya.

4. Beberapa pandangan teolog tentang gambar Allah

-Irenaeus; menyatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya, tetapi keserupaan manusia dengan Allah telah hilang saat kejatuhan manusia, sehingga diibaratkannya manusia ini yang terdiri dari daging adalah sebagaimana bernatur binatang, dan karena bernatur binatang, maka manusia ini hanya memiliki tubuh dan jiwa, sedangkan agar dapat menjadi serupa dengan Allah atau untuk mengembalikan keserupaan manusia dengan Allah, maka diperlukan adanya karya Roh, (Roh Kudus), dimana pribadi sebagai Roh ini terdapat dalam diri Kristus.

-Thomas Aquinas; dalam magnum opus-nya, Summa Theologica, menyatakan bahwa manusia yang memiliki karakter serupa/segambar dengan Allah, letaknya ada di dalam kecerdasan atau rasio manusia, sehingga gambar Allah ini hanya dapat ditemukan di alam pikiran manusia, sebagai kecerdasan manusia yang merupakan kualitas manusia yang paling menyerupai Allah;

lebih lanjut ia mempersepsikan gambar Allah yang ada dalam diri manusia dalam tiga tahap, yaitu:

(1) Manusia berpotensi untuk memahami dan mengasihi Allah secara alami.

(2) Manusia secara aktual atau kebiasaan dapat mengenal dan mengasihi Allah, namun belum secara sempurna, dalam pengertian pada taraf manusia menjadi benar.

(3) Manusia secara aktual mengenal dan mengasihi Allah secara sempurna, yang ia definisikan sebagai manusia yang terberkati.

-John Calvin; menyatakan bahwa manusia adalah gambar Allah; gambar yang dimiliki manusia hilang atau menjadi rusak atau dihancurkan oleh dosa. Oleh karena keberadaan manusia dikatakan sebagai memiliki gambar yang terletak di dalam jiwa, atau dalam pikiran dan hati, meskipun pada akhirnya gambar ini akan dipulihkan oleh Allah karena karunia yang diberikan bagi manusia, maka kesempurnaan manusia yang memiliki gambar Allah dipulihkannya didalam jiwa dan tubuh.

-Karl Barth; menyatakan bahwa gambar Allah yang ada pada diri manusia, tidak tedapat pada jiwa atau strukturnya, wataknya dll, namun karena pada mulanya Allah dianggap membentuk/menciptakan bahwa manusia tediri dari laki-laki dan perempuan, maka anggapannya tentang gambar Allah yang terdapat pada manusia itu adalah nampak pada perjumpaan manusia laki-laki dan perempuan, dimana pada satu alternatif laki-laki bisa menjadi perempuan dan sebaliknya, sehingga perjumpaan ini dianggap sebagai mencitrakan akan gambar Allah yang ada pada diri manusia.

-Berkouwer; menganggap manusia memiliki gambar Allah terletak dalam posisinya apabila manusia dapat meninggalkan kehidupan lamanya untuk menjadi manusia baru, pandangannya ini diarahkan pada persepsi yang menunjuk kepada diri Yesus Kristus, yang dinyatakan sebagai mencerminkan secara total akan gambar yang sempurna daripada Allah dengan titik fokus atau sentral pandang adalah dalam kasih yang ditunjukkan Kristus pada manusia, kasih-Nya yang ajaib.

Sumber Bacaan/Pustaka:
1. ———-, Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, 1974
2. ———, Alkitab, elektronik 2.0.0; Lembaga Alkitab Indonesia, 2002.
3. Anthony A. Hoekema; Manusia : Ciptaan Menurut Gambar Allah, Momentum, Surabaya, 2004.
4. Colin Brown; Filsafat dan Iman Kristen, Lembaga Reformed Injili Indonesia, Momentum, Surabaya, 1994.
5. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid II, Yayasan Komunikasi Bina Asih / QMF, jakarta, 2003, hal. 583 – 598.
6. Walker, D.F; Konkordansi Alkitab, Kanisius, Yogyakarta, 1994
7. Internet: http://www.christianswers.net/dictionary/sonofgod.html, okt.18.2004


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: